Aku mengenal sebuah wajah dari tulisan. Ukirannya menggaris dari raut ceria hingga tawa. Hampir tak ada derita di mata dan senyum kemudian.
Aku enam belas hari di tanah ibukota untuk beberapa mimpi, dan banyak mimpi yang kubawa. Hampir tak bisa diburu guruh langit empat hari terakhir. Ia mengawan hitam lalu menangis dalam kelam.
Aku sudah menghubunginya lewat semua media. Ya, pemilik wajah ceria, aku mengantarkan mimpi punyaku sendiri. Jika tidak, untuk apa aku hanya berbekal tiket pulang saat datang. Selalu melangkah dibawah terangnya lampu...
27 May 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)