Seminggu ini aku terbelenggu dalam hasrat. Keinginan berdasarkan ego yang hampir tak bisa kuelak. Berpikir layaknya aku sendiri yang punya dunia ini. Hanya aku yang patut mengatur diriku dan dunia di dalamnya. Sampai akhirnya aku pada hari ini. Hari kemenangan. Hari dimana semua orang kembali menjadi sesuatu yang baru, seseorang yang baru. Lalu aku tertegun, apa yang kupikirkan kemarin?
Lihat bagaimana mereka tersenyum, bagaimana mereka menerimaku, bagaimana aku tak pernah ada untuk mereka. Keluarga, sahabat dan orang-orang yang kusayang selama ini.
Lihat saja daftar ego-ku yang sama sekali tak layak bahkan untuk disebut sebuah ego. Untuk kakakku Dhika yang masuk daftar "orang yang tak bisa dimaafkan", maafkan aku. Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Bukan kamu yang terlalu kasar, tapi aku yang terlalu jadi lemah. Aku akan jadi kuat sekarang. Baik fisik maupun mental. Untuk sahabat yang kemudian tak jadi sahabat karena sahabat yang pergi, Ardi, maafkan aku kalau terlalu cuek. Kau memberikan nilai persahabatan yang tak ada duanya, yang tak bisa "ia yang pergi" berikan pada kita. Untuk yang merasa tak punya hidup lagi, yang masih menimang anaknya dan muram menatapnya, aku masih disini. Hidup masih panjang. Maaf aku belum bisa kembali. Tapi keyakinanmu yang pasti mempertemukan kita suatu saat nanti. Untuk yang mendampingiku hingga hari ini,
sorry kalau belum bisa jadi yang kamu inginkan, hhe.
I'll do better what i can. Gak akan buat kamu nyesel milih orang yang sama sekali bukan "tipe loe", hha.
Everything we mad can be an endless story... (ngutip "Friends Love")Sekalian di hari kemenangan ini ku cuma mau bilang, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Maafkan diriku yang tak sempurna ini.