Email Subscription box byLatest Hack

12 August 2013

Namida

'Pertama kali' selalu jadi cerita tersendiri. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali naik kelas, pertama kali mematahkan pensil. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali berciuman, pertama kali bercinta.

Ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang menatap langit yang perlahan mengabu. Lembab mata sayunya hampir tidak berkedip, sembab bibirnya tidak mengatup. Secarik garis turun dari tengah matanya ke dagu kecilnya. Garis hitam keras. 

Ia menengadahkan tangan kanannya, telapaknya meminta langit berhenti di pusarannya. Lalu gerimis turun.

Tanda lampu jalanan manusia hijau sudah berganti manusia merah. Enam belas kali. Dia, masih diam tak memulai basa-basi. Kita berhadapan pertama kali. Aku jatuh cinta lagi. 

Perlahan air menggenang di telapaknya. Dikepalkan tangan itu. Jemari kecilnya kemudian membuka satu per satu. Di tangannya, ada kupu-kupu. Dari air hujan kelabu.

"Apa yang kau lakukan?"

"Menenun."

"Hujan?"

"Ya."

"It's hard to make sense, feels as if I'm sensing you through a lens." - Comforting Sounds (Mew)

19 July 2013

Catatan Kecil, Tentang Perjalanan Empat Tahun

1.
"Saya punya teman, seorang gitaris. Dia handal, hanya sayang tak punya band."

Kira-kira seperti itu chat yang saya kirim lewat IRC kepada user dengan nickname 'co_cari_gitaris'.

Ia merespon dengan antusias, "Pertemukan kami." Sigap, tautan pengguna jejaring sosial yang merujuk pada sebuah nama "Why Frank" kulampirkan dalam chat itu.

Lalu? Begitu saja.

***

Beberapa minggu dengan hari-hari yang biasa saja berlalu. Tak ada yang ajaib dari itu. Hingga sebuah pesan sosial media masuk menyapaku, "Kita perform tanggal xx di xx. Datang, ya."

Hanya selang berapa hari sejak itu, aku sudah berada di kerumunan orang yang menutupi jalan. Beberapa pemuja musik, beberapa pemuja eksistensi. Acara launching sebuah butik anak muda yang menjual nama besar sebuah band baru. Mereka sepanggung dengannya. Mungkin dari situ, nama besar tertular kepada mereka. Dari situ, aku benar-benar melihat mereka.

2.
Aku tak ingat sejak kapan didapuk menjadi 'pengatur' mereka. Sebuah wacana kemudian keluar saat kumpul bersama. "Kamu saja yang jadi manager kita, ya?" Aku tidak pernah mengiyakan, tidak juga menolaknya. Aku dipercaya. Itu bukan sesuatu yang bisa kau tolak, bahkan dengan alasan kuat. Yang tak bisa kau terima karena itu sudah ada begitu saja di pundak.

***

"Banyak rencana kita yang tak terwujud tahun ini. Tapi, lebih banyak yang tak kita rencanakan malah terwujud tahun ini," kataku mantap sembari menjunjung tinggi majalah ternama tanah air yang gemar mengulik band-band khususnya band indie. Band yang masih merayap seperti mereka. Disana, foto mereka terpajang dengan gagahnya.

***

"Memang tidak mudah menyatukan empat pikiran menjadi satu, tapi cukup satu alasan yang menyatukan kita. Musik," kali ini kalimat itu lebih teratur keluar di sela-sela interview ringan harian lokal.

***

Aku, hanya punya kata-kata yang besar. Tidak hati yang besar.

3.
Kemudian aku seperti melupakan mereka. Terbius asmara yang menenggelamkan mereka dalam mataku kemudian. Aku hanya mampu melihat mereka bangun dan jadi lebih kuat, tanpa hadir di dalamnya.

***

Aku, mengkhianati amanah mereka.

4.
Matahari sejenak lagi terbit di ufuk timur. Terbit tidak juga keluar membalas pesan. Setelah sujud kupersembahkan, kulangkahkan kakiku pulang. Aku tidak pantas disini lagi, pikirku.

5.
Tiap orang akhirnya memiliki masalah tersendiri. Asmara khususnya. Lihat, betapa cinta membutakan mata. Tapi bukan Standing Forever namanya, jika tak bisa berdiri selamanya.

***

Susah dan senang sudah dilampaui bersama. Dari panggung mini, hingga bergengsi. Dari memburu mimpi sampai menyediakan mimpi. Beberapa kemudian menjadi pemimpi melihat kami berdiri hingga kini.

Aku pernah menangis dalam hati jika melihat mereka diatas panggung hingga kini. Sebagian haru sebagian malu. Aku, tidak tumbuh bersama mereka. Tapi lihat, mereka selalu disana. Mengisi kegawangan panggung dengan musik lantang. Lalu turun dengan kebanggaan. Aku menangis sekali lagi. Kali ini haru.

***

Jakarta, 6 Desember 2012.

Tanah ibukota kuinjak pertama kali. Membawa misi dan mimpi. Di sekitarku, pemuda-pemuda yang menitipkan mimpinya tersenyum lebar. Ini kali kedua mereka kesini, hari ini aku sempat mendampingi.

Susah senang sama-sama, kata orang. Walaupun banyak susah di awalnya, puncaknya adalah hari terakhir. Sebuah panggung berlatarkan gedung menjulang dan awan mengambang di langit cerah terpampang. "Here's our day!" bisikku lantang di ruang ganti.

Kemudian mereka terbang berjuang, aku hanya bisa memandang. Kemudian menangis dalam hati, kali ini mengandung kebanggaan.

6.
Aku mengetik paragraf terakhir ini setelah meninggalkan mereka di warung kopi berselimutkan hujan pukul satu malam. Setelah bersama mencuri waktu memikirkan masa depan. Masa depan sebuah mimpi yang tergabung dalam sebuah band yang berdiri empat tahun lalu. Sebuah band yang dinamakan . . .




"I remember. Never forget. Forever. Always." - You Are My Friend.

15 July 2013

Pulau Gaiman

Berlama-lama di sini hanya menyenangkan hati Alma, tapi tidak hatiku. Maksudku, aku senang berada di kota ini, berteman dengannya. Aku senang memberi tumpangan skuter sewaan ini padanya, lalu seperti biasa ia turun lima puluh meter lewat kuburan tua – tanpa pernah kutahu kenapa ia turun di situ – setiap hari. Tiap kota kuberi jatah paling lama tiga bulan. Satu bulan untuk mengenal kota dan kenalan sana-sini. Satu bulan untuk cari gara-gara, maksudku melakukan apa yang bisa kulakukan di sana. Sisanya memikirkan destinasi berikutnya.

Alma tentu senang jika kutunda kepergianku barang satu atau dua bulan. Dari gerak-geriknya, mungkin dia sedang jatuh cinta padaku. Ia tak pernah terlambat membawakanku sarapan pagi. Kamar sewaannya tepat di samping kamarku. Dia senang memasak dan lebih senang jika masakannya dinikmati sampai habis. Aku satu-satunya orang, katanya, yang selalu menghabiskan masakannya.

Agar ia tidak begitu kecewa, sebaiknya kuberikan hadiah perpisahan. Seperti kota lainnya, aku tak pernah berjanji pada siapapun di sana bahwa aku segera kembali. Aku tidak suka pulang pergi. Aku suka terus berjalan, ke manapun asalkan aku tidak berhenti. Hidupku bukan untuk menetap, kurasa. Hmm... sebaiknya aku memberi Alma, sebuah Almari.

Karena ia sering turun dekat kuburan dan aku ingin pergi dengan keren, sebuah pahatan Almari (aku punya souvernir berukuran sekepalan tangan) dan tengkorak bayi kucing. Tentu toko ini menjualnya.
Maksudku apa yang tidak dijual di toko ini. Tokonya berisi segala rupa barang. Dari keset bekas hingga sebidang tanah. Pemiliknya selalu memberi informasi di mana pelanggan dapat menemukan yang dicarinya jika kebetulan ia tidak punya. Dalam bau apek dan pengap tokonya, aku dibawa ke sederet rak memajang stoples-stoples berisikan kebutuhan kelas sains. Di antara awetan katak dan ular albino, stoples bening berisi kerikil-kerikil berpenampilan jauh lebih menarik dari yang lainnya, tepat dalam rak di belakang. Pikirku, orang mana yang ikut-ikutan hobiku mengoleksi batu?

“Barang jualan kelompok daur ulang dari gang sebelah,” kata pemilik toko. Kubayar tanpa menunggu kembalian. Si bapak mengacungkan tengkorak bayi kucing, lantas aku keluar toko dengan hati hampir meledak.

Alamanda, Swarsa, New Delphia, dan sederet nama kota lain, tempat-tempat yang pernah menerimaku dengan bijak tertulis di tiap kerikil itu. Dan batu yang tampak begitu kentara dari luar stoples bertuliskan nama kota apung kecil. Kota yang jelas tidak tertulis dalam peta. Tempat paman Gaiman yang mungkin sedang menungguku.

...


  • Penggalan tulisan ini adalah bagian dari cerpen Pulau Gaiman yang lolos sebagai finalis kategori kolaborasi dalam proyek menulis yang diselenggarakan NulisBuku.
  • Untuk mengikuti kelanjutan cerpen Pulau Gaiman, dapatkan buku "Kejutan Sebelum Ramadhan" kategori Kolaborasi Terbaik. Untuk cara pemesanan, klik disini.
  • Reblogged from Nokturnalinea.com

23 June 2013

Tulisan ini diketik dalam kondisi masih dibawah euforia, sudah kenyang dan sudah wangi. Tulisan berikut  juga sebagai review yang bisa dibaca teman-teman yang tidak sempat hadir. Bagi readers yang hadir, harap bisa memberi komentar.

Hari ini 23 Juni 2013, mungkin akan jadi satu hari yang tidak terlupakan, kecuali saya amnesia atau alzheimer suatu saat nanti (tidak amin). Pasalnya, hari ini idol-group yang juga sister-group dari AKB48 yaitu JKT48 menghelat perutunjukan perdananya di Makassar. Sebagai Japan-Lovers yang 'setengah-setengah', tentu saja ini menarik perhatian tersendiri buat saya. Di samping pertunjukkan mereka yang jelas 'memukau' mata, lagu-lagu mereka yang kawaii ala film anime Jepang juga sudah lama nyaman di telinga.



Berbekal semua alasan itu, berburulah tiket. Sebisa mungkin gratis dan sejelek-jeleknya dapat harga diskon.. Alhasil, lewat perjuangan yang berat - iya, berat sekali- tiket konser perdana di Makassar itu bisa sampai di tangan. Terima kasih banyak untuk @ariiharyanto sang raja kuter (kuis hunter, red) yang memenangkan tiket ini lewat kuis twitter dan memindah tangankan padaku, fufufu. Thanks a lot!

Tiket invitasi dari hadiah kuis yang dimenangkan @ariiharyanto. Harusnya tiket in bisa  dipakai sebagai special access dan foto bareng member, namun karena solid dengan fans JKT48 yang lain, saya tetap ngantri di gate. Bego sama solid beda tipis.


Di venue, penonton sudah membludak. Satu-satunya orang yang saya kenal disana adalah @awantopsy. Lelaki berkumis dan semi janggut tampan dan menawan ini jelas hadir karena dia adalah member Shinseki48 Makassar (Komunitas fans idol-group 48). Dan begitu MC memanggil nama JKT48, lampu dipadamkan, hanya sinar lightstick warna-warni dari para penonton yang menerangi sekitar. Dalam keegelapan, beberapa member mengatur posisi di stage diiringi riuh suara penonton. Dan dimulailah lagu pertama. Sesi pertama dibawakan tiga lagu sebelum para member memperkenalkan diri satu persatu. Penonton dibuat panik karena sesi kedua disebut sebagai sesi terakhir, Sebelumnya memang kami mendapat info bahwa JKT48 hanya akan membawa 6 lagu di konser ini. Tapi namanya fans, semangatnya tidak luntur. Setelah lagu terakhir di sesi kedua, para member menghilang ke balik stage begitu saja. Serentak para penonton meneriakkan "ankoru!", yang berarti encore berulang-ulang. Bentuk apresiasi para fans kepada member yang berarti pertunjukan menarik selama dua sesi itu. Dan akhirnya, para member kembali ke stage, sekali lagi, dalam kegelapan. Begitu lampu disorotkan ke arah panggung, para penonton teriak dengan girangnya. Kostum para member sudah berubah ke kostum River! River adalah single terakhir JKT48 yang akhirnya menunjukkan jati diri idol-group ini. Jika sebelumnya mereka selalu diberi setlist lagu yang bergaya kawaii, lewat River mereka akhirnya diakui oleh sister-group lain bahwa JKT48 cocok dengan lagu yang nge-beat dan penuh semangat. Identik kawaii khas JKT48 kemudian berganti menjadi sporty.

Parade lightstick

Member memperkenalkan diri

Para member ngobrol sama fans nih

Gha-chan, akk!


Setelah dua lagu dibawakan dalam sesi encore ini, para member mengisinya dengan aksi panggung bak fashion show yang dibagi dua sesi. Jadi, tiap member berlenggak-lenggok dan memperkenalkan diri sekali lagi. Ada moment dimana Ghaida (akk!) jatuh :| Poor, Ghaida. Tapi show must go on. Setelah dua sesi fashion show dan semua member sudah (sekali lagi) berganti kostum, lagu terakhir dibawakan, Hikoukigumo. Terakhir, para member mengucapkan terima kasih sekali lagi, melempar kiss-bye dan membungkuk sebagai tanda penghormatan kepada para fans.




JKT48 Live In Makassar, kawaiii...!

Ini beberapa list lagu yang saya tahu dibawakan pada konser di Makassar (jika saya tidak salah):
  • Overture
  • JKT Sanjou
  • Heavy Rotation
  • Kimi no Koto ga Suki Dakara (Karena Kusuka Dirimu)
  • Ponytail to Chou-chou (Ponytail dan Shu-shu)
  • Baby!Baby!Baby!
  • Aitakatta (Ingin Bertemu)
  • River
  • Oogoe Diamond (Teriakan Berlian)
  • Gomenne, Summer (Maafkan, Summer)
  • Hikoukigumo (Jejak Awan Pesawat)

Konser yang diberi nama "Perkenalkan, Nama Kami JKT48" ini jelas akan menjadi memori tersendiri untuk semua penontonnya. Saya juga membuat beberapa catatan tambahan dari konser ini yang saya jabarkan di bawah.
  • Pihak panitia yang mengumumkan open gate pada pukul 15.00 WITA ternyata mundur satu setengah jam. Ditambah lagi, antrian masuk membludak karena hanya ada satu gate sementara penonton terbagi menjadi dua tiket festival. Alhasil, aksi dorong dan tidak tertib pun terjadi.
  • Sound system saya rasa baru mencapai titik maksimal begitu masuk sesi encore saat River dibawakan. Entah ini trik panitia atau dari official JKT48 sendiri. Overall, pertunukkan dari awal sampai akhir sangat menghibur.
*) Post ini kemudian dikutip di:

22 June 2013

Cerita Mati

Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati. Ah, tampaknya itu hanya cerita basi. Kau lebih memilih tidur dengannya dengan alasan permainan yang ingin kau nikmati. Bergelut dalam selimut berpelangi dengan keringat dan wajah merona pasi.

Aku tidak pernah membenci masa itu. Ketika kau lebih memilih satu dan itu bukan aku. Lalu berpetualang mencari madu. Lalu kau malu-malu. Tiga tahun kuhabiskan menunggumu. Kupikir itu hanya bayangan semu yang kemudian kau taburkan seraya garam diatas semua lukaku. Ah, masa lalu.

Aku punya pesan yang tak pernah kau baca. Aku tak tahu jika kau punya serupa. Biar aku coba, "Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati." Tapi, itu hanya pesan belaka. Bukan nyata jika tak pernah terungkap adanya. Hanya disimpan dalam hati lalu meresap dalam dada. Menjalari urat syaraf, membutakan mata. Menutup semua pintu cinta lewat sentuhan dan tegukan kata-kata yang tak sempat keluar dalam sapa.

Aku ingin sekali mengatakan, "Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati," ketika terakhir kau datang ke kota ini. Tapi bukan itu yang seharusnya terjadi.

Ada yang seharusnya terjadi, namun lebih baik tak terjadi. Saat semua tak seharusnya...

27 May 2013

Kapan Ke Jakarta Lagi?

Aku mengenal sebuah wajah dari tulisan. Ukirannya menggaris dari raut ceria hingga tawa. Hampir tak ada derita di mata dan senyum kemudian.

Aku enam belas hari di tanah ibukota untuk beberapa mimpi, dan banyak mimpi yang kubawa. Hampir tak bisa diburu guruh langit empat hari terakhir. Ia mengawan hitam lalu menangis dalam kelam.

Aku sudah menghubunginya lewat semua media. Ya, pemilik wajah ceria, aku mengantarkan mimpi punyaku sendiri. Jika tidak, untuk apa aku hanya berbekal tiket pulang saat datang. Selalu melangkah dibawah terangnya lampu jalanan ibukota yang kata mereka penuh ancaman.

Seperti malam ini, ketika kata tidur tidak bersahabat dengan mata. Padahal aku sudah terjaga selama kau memberikan pesan kata dan suara. Aku hanya bisa membaca dan mendengar tanpa menyentuhnya. Tanpa menyentuhmu.

"Kapan ke Jakarta lagi?"

Aku pernah melangkahkan kaki tanpa sengaja disana. Karena memang baru, karena aku pemalu. Jika kau tahu betapa lebar senyumku begitu mengenali gedung yang tiap hari harus kulewati, mungkin kau tak akan bertanya melulu. Dan aku berharap kau sedang memandang keluar saat itu, entah dari lantai berapa, kemudian mendapati seorang dengan senyum lebar bak orang gila di penghujung suatu senja. Mungkin, kau akan bisa tertawa sejenak, dan melupakan penat praktikum seharian.

Atau kita bisa saja bertabrakan mata, saat aku melangkah pelan dan mengidentifikasi wajah-wajah dibalik almamater biru di penghujung senja hari lainnya. Wajah-wajah penuh semangat sepertimu. Aku juga pernah berharap kau menggunakan layanan dari bank yang sama, agar kita berpapasan di ATM depan gedung itu. Lalu bertanya kabar, lalu pergi bersama keluar.

Mungkin kita bisa sama menikmati dentuman harmoni nada yang memekakan telinga, lalu saling menatap, lalu berteriak. Mimpi orang-orang yang kubawa kesana akan berbaur dengan mimpiku, dan tak ada yang lebih sempurna dari itu. Aku sudah siap, bahkan sebelum langkah pertamaku. Walau semua keraguan jelas datangnya pada hari yang paling ditunggu. Aku menumbuhkan kumis tipis kala itu. Hihi, lucu.

Ah, betapa indah dunia dalam imaji. Bisa membunuh sepi dan sunyi juga mimpi. Terjaga bersama jejak-jejak kecil bersama deru angin yang membawa hujan subuh ini.

"Ke Jakarta lagi dong? Biar bisa ketemu."

Tak perlu ibukota, jejakmu masih ada di pulau dewata. Beberapa ingatan menjadi gambar yang menyiratkan kita bersama. Deru angin dan ombak menggulung, memulung satu demi satu potongan senyum keindahan. Lalu, ya, kita setuju. Diantara suara alam paling indah, ini yang paling indah.

Hanya satu potongan yang tak sempat kugariskan ke masa mu. Pulau tebing dan batu, lengkap dengan jatuhnya matahari paling indah kemudian menyatu. Dengan itu semua, kita sekali lagi bersama.

***

Kita mungkin sudah bertemu. Tapi bukan di dunia ini. Mungkin sebelumnya, atau setelahnya. Atau hanya dalam rangkaian cerita yang kuharap kau adalah penulisnya.