Email Subscription box byLatest Hack

Showing posts with label absurdly randomness me. Show all posts
Showing posts with label absurdly randomness me. Show all posts

29 April 2013

Saya, Kelebihan Merindukanmu

"Yah, hidup memang selalu terasa lembut dan manis, seperti satu slice tiramisu cake. Jika menikmatinya terlalu banyak, yang ada hanyalah rasa pahit. Namun apabila setiap hal dinikmati sesuai porsinya, maka kelembutan dan rasa manis itu akan bertahan selamanya."

Satu paragraf yang kusuka dari buku ini. Ya, hanya satu paragraf itu, melumpuhkan keluhanku atas seluruh isi buku. Ia cermat diletakkan dua halaman sebelum cover belakang, satu halaman sebelum halaman promo buku lain.

Buku dengan tagline "Cintaku selembut keju, sepahit kopi" ini menipu dari segi cover. Don't judge the book by it's cover, and now I'm agreed with that. Patah, kalimat dan paragraf itu seakan jadi juru selamat.

Karena itu saya tidak akan membahas buku itu di postingan kali ini. Lebih kemana kalimat dan paragraf itu seharusnya ditempatkan, perasaan.

Sesuatu yang berlebih memang selalu tidak lebih baik. Terlalu rindu, terlalu sayang atau bahkan terlalu terobsesi akan sesuatu, atau mungkin seseorang. Jika orang bisa kecanduan kafein dan nikotin, saya kecanduan tiramisu. Bukan potongan kecil kue seperti simbolis diatas, tapi cair dalam kungkungan gelas sekali pakai.

Ia hadir lewat sebuah tombol, begitu instan, begitu ekstra. Ia begitu manis, sampai tak perlu menumpahkan gula, menghalangi rasa. Ia, tiramisu dan kopi yang manis, tak ada kepahitan dalam rasanya. Membuatku ingin terus tambah, tambah dan tambah.

Lalu pahit. Lalu dingin.

Saya kelebihan tiramisu...

Saya kelebihan merindukanmu...

04 April 2013

Kebebasan

Ada sebuah kata dalam film yang barusan saya tonton. Kata ini menggangguku hingga menyalanya lampu dan dibukanya pintu keluar studio. Begitu juga pertama kali menatap langit berteman awan, komposisi paling indah dengan warna biru-putih. Sepasang burung melintas di depan pemandangan itu. Meliuk kesana-kemari, menghiraukan angin. Seolah angin tak pernah ada untuk mereka. Mereka bebas menentukan arah kemana sayap mereka menutun. Ya, kata itu adalah 'kebebasan'.

Selama ini saya tak pernah berpikir jauh soal arti kata itu. Sampai tadi, kuulang dan terus kuulang. Kebebasan...kebebasan..kebebasan... Apa saya pernah sejenak meraihnya? Apa saya pernah benar-benar merasakan yang namanya kebebasan? 

Pertanyaan itu kemudian mengikutiku sampai ke tempat kerja. Kebetulan salah seorang teman terpaksa tidak bisa hadir di shift yang sama dengan alasan kedukaan. Salah satu keluarganya meninggal barusan. Ah, kematian? Apakah itu berarti kebebasan? Bukankah seseorang yang mati kemudian terbebas dari belenggu dan aturan-aturan dunia yang ini-itu. Jika tidak ini, kita akan itu. Jika begitu, akhirnya kau akan seperti ini. Semua serba aturan. Saking banyaknya, mungkin itu yang membentuk jiwa-jiwa manusia muda dengan kalimat, 'peraturan dibuat untuk dilanggar'. Mereka muak, sesak, terkekang. Itu sebabnya mereka membuat 'peraturan diri' agar terbebas dari aturan yang ada. Saya pernah berada dalam posisi seperti mereka, saya tidak mendapat kebebasan dari melanggar peraturan.

Dari kabar itu juga saya akhirnya berpikir, apakah sekarang saya mendapat kebebasan? Sendiri di kantor, yang jelas diluar jam sibuk seperti ini sangat sepi. Saya bebas melakukan apa saja, sendiri. Main game, dengar lagu sambil nyanyi-nyanyi, pakai modem sepuasnya. Apakah ini kebebasan? Melakukan semau kita sesuai kondisi yang ada memungkinkan semua itu. Tidak, saya sekali lagi tidak merasa ada kebebasan dalam melakukan hal-hal itu. Buktinya, saya masih terus menulis.

Ah, ya! Menulis! Saya sudah menulis beberapa postingan dan beberapa kata untuk proyek lain, dan saya tidak ingin berhenti. Seperti saat saya menambahkan kata dalam kalimat, tanpa sadar saya sudah melakukan sesuatu pada sosok di dalam cerita tersebut. Apakah saya ingin membunuhnya, membuatnya tertawa atau membuatnya murung melihat orang yang ia cintai terluka. Atau ketika saya berbagi dengan orang lain. Atau ketika saya menyelipkan kamu dalam selipan kata pengganti di tengah-tengah tulisan saya. Saya merasa bebas untuk itu, Saya menemukan kebebasan dalam menulis. Seseorang pernah berkata, "Bahagia pasti rasanya jika kita hanya bisa menulis dan menulis. Seperti menjadi diri kita sendiri." Ya, dia benar. Saya merasa menjadi diri saya sendiri ketika menulis. Saya tidak butuh banyak ruang, banyak rupa, bahkan banyak cinta. Dengan kematian, kesunyian, nama kamu diselipan kata, sudah cukup membawaku pada kebebasan mengikuti jari-jemariku.

Menulis... ah, ya... mungkin saya akan melakukannya selama saya mampu. Hal kecil yang membawa saya pada kebebasan.

28 March 2013

Mbah StuDiak

Semalah saya kerasukan sepi. Memiliki shift kerja diluar jam kerja normal kadang membawa kebosanan tersendiri. Dengan bermodal modem internet yang baru saja pulih dari sakitnya, hal lain kembali merasuki saya. Namanya Mbah StuDiak. Ia ahli meramal berdasarkan zodiak. Jodoh, rejeki sampai karir mampu ia jabarkan. Tentu saja dengan kekocakan ala Restu yang garing. So, inilah bahasan Mbah StuDiak selama mengisi kebosanan :

Aquarius gak cocok sama Aquarius, bisa banjir. - 7:47 PM - 27 Mar 13 
Aquarius cocoknya sama Pisces. Saling melengkapi. *ihhik* - 7:50 PM - 27 Mar 13 
Aquarius juga cocok sama Cancer, yaaa walaupun si Cancer besar kemungkinan mendua dengan naik ke darat. pfft. - 7:51 PM - 27 Mar 13
Aquarius paling gak cocok sama Capricorn. Pernah, liat kambing mandi? - 7:51 PM - 27 Mar 13
Buat kamu yang berzodiak Capricorn, kamu cocok banget sama Libra. Mereka serasi sekali saat berdampingan di Idul Adha. - 7:57 PM - 27 Mar 13
Untuk soal rejeki, Libra adalah yang paling adil dalam membagi rejeki itu. Jangan tanya kenapa. - 8:04 PM - 27 Mar 13
Sementara Aquarius adalah orang yang paling derma dalam memberi rejeki *uhhuk* *benerin kacamata* - 8:05 PM - 27 Mar 13
Selain keadilan di pihak Libra, Gemini juga adalah sosok yang adil dalam memanfaatkan rejeki. - 8:06 PM - 27 Mar 13
Lanjut, Cancer juga adalah orang yang dermawan. Lihat tangannya, lihat! eh maap, capit. - 8:11 PM - 27 Mar 13
Leo sendiri orang yang hemat. Sesuai logonya, karakter Leo membiarkan rambutnya tumbuh panjang dan jarang dicukur. Biasanya setahun sekali. - 8:12 PM - 27 Mar 13
Capricorn punya rejeki yang tak terduga. Ia menjadi alasan kemanusiaan dalam film 'The Terminal'. Sejak itu ia identik dengan Tom Hanks. - 8:13 PM - 27 Mar 13
Gadis Virgo juga bisa punya rejeki yang banyak. Dengan catatan jika ia masih Virgo.  - 8:14 PM - 27 Mar 13
Aquarius cocok menerapkan bisnis berbasis air. Contohnya buka usaha WC umum atau tempat bilas dipinggir pantai. - 8:17 PM - 27 Mar 13
Pisces sudah jelas, lebih berjaya dengan hal-hal berbau ikan, seperi di pasar ikan. Mereka cocok jadi tukang parkir disana. Ramai. - 8:18 PM - 27 Mar 13
Aries sendiri jelas cocok berprofesi sebagai guide pendaki. Gunung sudah jadi ciri khas mereka. Gunung bro, gunung.  - 8:19 PM - 27 Mar 13
Karir Scorpio akan melonjak saat ia punya ekor. Berperan sebagai Sun Go Kong di layar lebar contohnya. - 8:23 PM - 27 Mar 13
Profesi yang cocok untuk Libra? Sudah jelas, kan? Tuh di pasar banyak timbangan. - 8:24 PM - 27 Mar 13
Yang pengen kawin sama orang kaya, cari calon yang berzodiak Sagitarius. Hanya orang kaya yang bisa implan tubuhnya ke badan kuda. - 8:25 PM - 27 Mar 13

Juga ada sesi khusus, Tanya Mbah :

: Kalo Virgo cocok sama apa ya Mbah?
Jawab : Virgo cocoknya sama Sagitarius, Cu. Mau pacaran sama kepiting?
 : gagalki jadi peramal, yang kepiting itu cancer *balikin duit saya! Hahahaha.
Jawab :  wah, you don't get it yah, Cu. satu"nya zodiak yang punya bentuk badan cowok ya Sagitarius. pan cocok tuh sama Virgo yang Virgin.

: Mbah klo taurus cocoknya sm apa? :3
Jawab : Taurus cocoknya sama Aries, Aquarius dan Sagitarius. Sama-sama berakhiran huruf 'S'.
 : Mbah ,klo sm geminis cocok d',iaa pasti cocok dong dong
Jawab :  Jangan maksa, Cu. Nanti durhaka.

 : cess Pisces! :) (balasan: Aquarius cocoknya sama Pisces. Saling melengkapi. *ihhik*)
Jawab : ogah, saya masih normal :|

: scorpio dong, kaka :D
Jawab : ah ya. Asmara Scorpio sangat keras. Jika ia tidak suka dengan pasangannya, ia cukup meracuninya. Rejeki, sepanjang ekor.
 : beware of scorpio girl :D | tapi wanita scorpio itu wanita sesungguhnya loh
Jawab : iyah, kecuali mereka hermafrodit
 : iya, iya. ga usah sebut tampakan gueeeh :|

: mbah dukun..klo aries gmn..?? :D
Jawab : Asmara Aries, jika cinta, ia bisa seperti naik keatas gunung, jika patah hati ia bisa seperti kambing" lain, gulai.

 kapan belajar astrologinya? :|
Jawab : barusan, di google
 : ramalin dong kaka :3 kapan gitu dompet saya bisa unlimited?
Jawab : kamu zodiak apa, Cu?
 : gemini
Jawab : Gemini cocoknya punya dua dompet, walau kosong setidaknya punya dua.

: pasti suka baca primbon nih
Jawab : primbon yang suka baca saya, Cu

 : musrik itu paling dekat ma neraka loh stu :p
Jawab : iyah, kayak kamu main musrik di BOTM (salah satu band yang tidak terkenal di Makassar, red)



27 March 2013

Hujan Maret

Hari ini hujan deras, sementara Ibu tidak berhenti mengirim pesan singkat lewat telepon seluler yang tak ia hapal letak tombolnya, hanya untuk sekedar mengingatkanku agar tak lupa makan.

"Restu ko sudah makan ka? Dirumah ada ikan."

Aku tak pernah benar-benar suka ikan. Aku sering tersedak tulang. Tapi Ibu selalu membuatnya. Ayah suka ikan. Seperti kecintaan ayah akan sepatu. Sejak aku kecil, tak pernah kudapati sepatunya kotor. Selalu disikatnya sepatu kesayangannya itu lengkap dengan semir hingga mengkilap. Dilakukannya pukul 4 pagi, setengah jam sebelum mobil jemputannya datang.

Aku selalu terbangun pada jam-jam segitu. Bukannya kembali tidur, aku selalu mendampinginya diruang tamu. Ia dengan kepulan asap rokok dan kopi hitamnya, aku dengan guling dan mata setengah terpejam. Tanpa kata.

Silau lampu mobil yang kemudian menjadi kode melepas kepergian ayahku meneruskan langkahnya mencari nafkah. Aku berdiam di teras sampai mobil itu hilang bersama senyum dan tatapan ayahku. Pintu kukunci setelahnya, sudah tugas harianku.

Belum lama ini aku pulang dari Pulau Dewata, hanya dengan buah tangan alas kaki untuknya. Aku menggembel disana, aku hanya ingat ia suka mengenakan sendal di dalam rumah. Agar tidak kedinginan kakinya, katanya. Alasan itu selalu ia gunakan sejak susah berjalan dua tahun belakangan. Wajahnya serupa mendengar kabar mendapat cucu baru. Bukan, bukan saat mengetahui ada oleh-oleh yang kubawa, tapi sejak aku mengucap salam memasuki rumah malam itu.

Paginya rutinitas sudah kembali seperti sedia kala. Pekerjaan sudah memanggil serupa suara debur pantai Kuta yang terasa masih saja terdengar. Selalu menyimpan rindu dan misteri agar kembali lagi suatu saat nanti. Kudapati sepatuku sudah mengkilap. Kutatap wajahnya, ia hanya nyengir kuda.

Ia melepas kepergianku mencari nafkah dari balik pagar. Setengah berteriak, "Hati-hati," bersaing dengan deru knalpot motorku. Dengan tak menepikan tatapannya seusai motorku hilang di perempatan. Aku mengikuti wajahnya lewat pantulan kaca. Ia tak pernah mengunci pintu, mengingatku selalu pulang larut dan mereka sudah terlelap.


Dunia tak pernah berubah, hanya tempat kita yang berubah. Tinggal sepintar apa kita menempatkan diri kita. Akhir tahun Ibu sudah menghujaniku. Kini giliran Ayah yang membuatku menjadi lelaki dengan gelembung air di sudut matanya. Sudah cukup ia yang menjadi lelaki itu. Kini, giliranku. 







08 February 2013

#7HariMenulisSuratPutus

Akhirnya balik posting di blog sendiri. setelah sekian lama vakum dari blog sendiri akhirnya postingan bisa ngalir lagi. Eh, bukan berarti gak nulis loh. Belakangan lagi sibuk meramaikan blog tetangga.

Yap, gegara si eky a.k.a @Rezzurrection buat sebuah 'proyek bebersih hati' yang disebut #7HariMenulisSuatPutus, maka sebagai teman yang baik (dan juga pengen membersihkan hati, haha), maka saya hadir dengan rajinnya di proyek tersebut juga.

Banyak yang bertanya kenapa 'menulis surat putus?'

Dari cerita lepas eky, suatu kali ia bertemu temannya yang sedang asik-asiknya di depan laptop. Cerita punya cerita, temannya ini sedang berpartisipasi dalam sebuah proyek akun twitter @PosCinta yang bertema #30HariMenulisSuratCinta. Nah, pertanyaannya kita balik sekarang, kenapa sih harus 'menulis surat cinta'? Cinta bukan hanya yang indah-indah saja, kan? Cinta bukannya memiliki banyak kepahitan terselubung?

Dari ide inilah akhirnya ia mencetuskan tema #7HariMenulisSuratPutus. Eh, ada yang nanya lagi, kenapa harus 7 hari?

Yaaaa kalau 30 hari takutnya pada galau berkepanjangan. Kalau galau berkepanjangan siapa yang mau tanggung jawab hayooo... hahahaha

Pokoknya jangan banyak tawar, temanya adalah #7HariMenulisSuratPutus. Tujuannya adalah bebersih hati. Cukup tulis surat putus dalam rentang waktu itu dan insya Allah hati akan bersih , sebersih piring yang sudah dicuci dengan sabun cuci bebas lemak. 

Total postingan saya sendiri sudah 6 disana. yang mau baca silahkan klik link di menu "Project" di blog saya ini. Sebenarnya sih diluar target, karena saya sebenarnya ingin memuat 7 postingan disana. Apa boleh buat, waktu membatasi dan saya pikir, saya akan memuat surat terakhir di blog saya ini. Sebuah surat yang tak pernah terkirim.

27 January 2013

Surat Penuh Cinta Untuk Sahabat Lama

Saya sedang jalan-jalan di blog teman dan mendapatinya rajin menulis dengan tema "menulis surat". Ternyata ia mengikuti sebuah kegiatan di social network. Ia rajin benar menulis surat untuk orang-orang disekitarnya. Kupikir, kenapa tak ia sampaikan langsung saja? Kupikir, lagi, mungkin ia tak bisa menyampaikan langsung. Lalu, aku tergugah juga untuk menulis "surat" untuk seseorang yang tak bisa kusampaikan secara langsung sebuah perasaan. Perasaan yang sudah menjadi kerak dalam hatiku, menjadikannya prinsip dalam hidupku.

Sebuah surat penuh cinta untuk sahabat lama. . .


Hi, Bot

Haha, aneh banget sapaannya. Lebih aneh kayaknya kalo saya pake "Dear, Bot" :p 

Apa kabar? Saya alhamdulillah baik, sehat. Ardi juga. Masih ingat kan? Dia orang yang terakhir berinteraksi denganmu secara langsung. Saya yakin karena itu ia adalah yang paling spesial diantara kita. Saya selalu cemburu karena itu, loh. Dari dulu, saya orang yang selalu paling terakhir dikabari. Jadi yang paling gak pernah dikomentari, dicalla dan dimarahin itu gak enak, loh, beneran. Ah, tapi tak apalah. Tiap orang punya pilihannya bukan? Seperti caramu meninggalkan kita.

Oh iya, sebelumnya saya mau klarifikasi dulu nih soal waktu itu. Sumpah, saya sama sekali gak liat kamu tidur di kamar kakakmu seperti klarifikasimu yang kudengar dari orang lain. Saya rabun, tapi tidak buta. Dan lagi, kita sudah dapat ijin dari Bude kok kalo masuk rumah. Malah disuruh langsung masuk kamar seperti biasa. Oh iya, alasan kita singgah ke rumah saat itu selain istirahat, kita juga nyari tempat sholat. Hari itu bulan puasa, kan? Hari kedua jika saya tidak salah ingat.

Ya, saya ingat ketika tepat jam berbuka puasa Ardi menelepon dengan nada terisak. Saya yakin ia jadi lelaki-dengan-gelembung-air-disudut-matanya saat itu. Seketika laparku hilang, emosi malah naik. Alhamdulillah sudah buka puasa jadi gak makruh haha. Nasi dalam leher aja sampe gak bisa ketelan. Satu yang kupikir, ini harus diselesaikan saat ini. Saya kenal betul perangaimu. Garis di dahimu sudah jadi tanda haha. Saya membayangkan garis itu berkedut saat kau menelepon Ardi.

Kau tidak keluar rumah juga malam itu. Untuk masuk, sudah jelas kita tidak punya keberanian melakukan hal yang sama yang membuatmu marah. Untung ada Ati' yang rela meminjamkan terasnya untuk kita berkeluh kesah. Walau handphonemu sengaja kau matikan, saya tahu kau sedang ditempatmu jika gelisah. Dudukan bak air di atap rumahmu yang baru direnovasi, kan? Saya melihat api rokokmu dari tempatku duduk. Apa kau melihat kami dibawah?

Kau tahu, setelah itu saya hampir tak percaya dengan yang orang-orang naif sebut dengan persahabatan. Kata itu seakan lenyap dari kamusku. Kau tahu sendiri saya seperti apa, my world is my mine. Sisa hari setelah kau memutuskan pergi, saya menyimpan prinsip itu bersama sejalan. Satu-satunya sahabat yang saya punya hanya Ardi, yang lain hanya teman. Saya juga suka mengejek dalam hati orang-orang yang menjunjung tinggi persahabatan, haha. Lucu, kan?

Kau memberi perubahan sebegitu besarnya dari diriku. Meninggalkan luka yang masih sakit. Yang bekasnya masih kubawa di telapak tangan kananku saat terjepit kunci geser pintu pagar rumahmu hari itu. Ya, hari kami masuk ke rumahmu tanpa ijinmu. Luka kecil ini sudah mengisyaratkan sesuatu tentang kita.

Sayang, ya. Hanya karena masalah sepele seperti itu, kau buat keputusan sulit. Untukmu mungkin tak sepele. Memang tak enak, jika baru bangun tidur kau langsung dimarahi ibumu dan disalahkan atas tamu tak diundang.

Kutulis surat ini hanya untuk menyampaikan sebuah maaf. Maaf yang saya tahu tidak pernah sampai padamu. Sekalipun sampai, kau pun tak mudah memberikannya. Tapi hanya itu yang ingin saya katakan dari dulu sampai sekarang.

Maaf.

Tempat Pulang

Dari sebuah perbincangan lepas dengan beberapa teman, muncul sebuah teori dalam benakku. Mungkin juga dalam benak mereka setelah pertemuan itu. Kuberi saja nama, "tempat pulang".

Sesuatu yang pergi, harus pulang. Begitu juga hati. Setiap hati yang pergi selalu mencari rumahnya. Sekedar untuk berteduh atau menenggalamkannya dengan hujan. Setiap hati, akan menjadi tempat pulang dari hati hati yang terus pergi. Menunggu kepulangan hati kesayangan mereka.

Aku punya tempat pulang. Mungkin, aku juga tempat pulang baginya.

Apapun yang terjadi, kebetulan selalu menempatkan kita bersama. Tentang pertama kita bertemu, adalah sebenar-benarnya karena temanmu yang cantik itu sebelum aku berhenti di kamu. Sebuah kebetulan.

Lalu, kebetulan lain ketika jalan depan bangunanku mencari nafkah selalu kau lewati sebelum bercumbu. Aku selalu berdiri disana, dan kau selalu berbalik kearahku dalam limapuluh kilometer per jam. Hanya sekian detik, senyummu kemudian lebur dalam senyumku yang tak kalah lebar. Apa daya, kita punya tempat singgah lain saat itu.

Kebetulan lain, aku bertemu denganmu kembali, melalui jejaring sosial paling ramai saat ini. Sebenarnya, aku sudah lama menemukanmu. Seseorang nge-twit sebuah pertanyaan dan aku memberikan informasi. Butuh sekian detik sampai aku ngeh bahwa di bio orang itu terdapat nama akunmu. Hihi.

Kita juga suka berada di satu takeaway cafe yang menyiapkan kopi siap saji yang sama, walau kita punya rasa yang beda. Rasamu sekarang jadi favoritku, selalu menginspirasiku untuk menulis, dan mengingatmu.

Secara kebetulan pun, panggilan kita bermula dari rambut. 'Tak mungkin tak ada perasaan jika masing-masing dari kalian sudah memanggil dalam sebuah panggilan', ucap seorang sahabat. Kupikir disana aku baru sadar, utuh, bahwa kau selalu punya tempat dihati. 

Kau selalu menjadi tempat pulang. 

Aku ingin pulang lebih lama. 

Nanti, jika kau sudah siap untuk pulang.

Rindu?

Saya belakangan selalu merasakan rindu. Tapi, rindu akan apa? Kemudian pertanyaan itu mewakili pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang terus muncul.

Aku tak memungkiri, aku rindu kecupan dan pelukan hangat. Aku rindu orang-orang yang pernah di dekatku. Aku rindu komunitas yang membesarkanku. Aku rindu sebagian dari masa lalu. Masa jaya maupun masa jatuh.

'Kau tak akan bisa maju jika terus berpikir ke belakang', kata sebagian orang. Bukannya masa lalu lah yang membentuk kita sekarang? Harusnya memang kita melihat kebelakang biar tidak terjerumus ke hal yang sama, kan? Pertanyaan-pertanyaan lain.

Atau kenapa saya harus merindukan mereka lagi, orang-orang yang menghancurkan hati hariku. Atau mereka yang tidak bisa menerimaku. Atau mereka yang menolak tanpa melihat sedikit kemampuanku.

Aku rindu mereka semua. Mereka membentukku menjadi kuat seperti sekarang.

Terima kasih untuk itu.

27 December 2012

Hujan Akhir Tahun

Hujan akhir tahun makin deras. Rintiknya tak lagi satu-dua, tapi sepuluh sekali tebas. Pohon-pohon basah. Atap juga. Hanya beberapa atap tak mampu menahan rintihan alam. Beberapa ikut menangis. Menembus plafon dan membasahi tempat tidurku. Banyak kekecewaan disana. Aku yang cepat terbangun, terlebih lagi Ibu. Mengantrikan kucingnya di kamar mandi, sekedar mencuci pantat atau sekalian memandikan mereka, adik-adik kecilku.

Tadi pagi ia sempat mengumpat padaku. Aku tidak cerdas, katanya. Hanya karena aku malas berjalan sepuluh-sebelas langkah ke warung di depan warung yang tak menyediakan mi instan goreng kesukaannya. Warung andalannya yang serba lengkap tutup, pemiliknya merayakan Natal. Aku pulang hanya dengan kerupuk di tangan.

“Jadi orang itu harus cerdas!”, ia masih meneriakkan hal yang sama. Ya, aku tidak cerdas. Aku tidak selesai sekolah. Tidak seperti sebagian, tidak, semua temanku yang sudah selesai atau masih bersekolah. Aku lebih mengandalkan intuisi di jalan rejeki. Bakat? Itupun aku curi dari beberapa orang yang selalu menegakkan kepalanya, lupa menengok ke bawah.

Selingan hujan diisi suara motor pergi dan merapat lima belas menit kemudian. Suara panci berisik dan sedok mengait. Mi goreng kesayangannya sudah di meja makan. Belum kering. Aku masih menonton My Sister Keeper. Persis di scene Cameron Diaz memangkas habis rambutnya. Scene-nya ringkas. Tapi aku terharu. Ibu kembali teriak lantang

“Makan itu. Coba rasa. Enak rasanya,”

Ia membeli mi goreng instan kesukaannya itu ditengah hujan di toko serba ada ujung jalan hanya untuk membiarkanku mencicipi apa yang ia sama suka. Ia hanya membeli satu. Tidak untuknya, juga Ayah. Aku menyambar mi goreng instan kesukaannya yang setengah kering itu, menimbunnya dengan nasi, melumuri kecap, yang kutau juga kesukaannya. Aku makan dengan gelembung air di sudut mataku, sembari mengetik post ini, dengan My Sister Keeper yang ku-pause dulu.

Aku akan memperbaiki atap itu segera, Bu. Aku tidak cerdas. Tapi aku punya orang yang selalu mengingatkanku hal itu. Itu sudah lebih dari cukup. Agar aku tidak seperti orang berilmu yang kucuri ilmunya sementara ia masih menegakkan kepalanya, lupa melihat kebawah. Agar aku tidak lupa, aku harus melihat kebawah. Agar aku tidak lupa, kalian masih ada. 

05 November 2012

Kita Dan Anak Kompleks Itu

Kau tak pernah sadar juga. Kita diciptakan sama. Walau bukan untuk bersama tapi itu takdir kita, sama.

Umur kita tak pernah sama. Aku jauh lebih tua. Hanya tua, belum memilih dewasa.

Kita sama-sama menunggu sesuatu yang terbaik, bukan? Bukan menunggu sesuatu yang baik saja. Karena mereka yakin, mereka diciptakan.

Kau menuduhku dengan anak kompleks itu. Bukannya kau yang ada-main dengan anak kompleks itu? Yang memanggilmu sayang di tiap kesempatan aku tak ada.

Kita sama, main dengan anak kompleks itu di tiap kesempatan kita tak pernah tercipta.

Kita sama, pergi dengan gurat sisa bayangan sahabat kita yang baru diketahui setelah sebuah kecupan mendarat di pertemuan pertama.

Mereka bukan anak kompleks itu.

Anak kompleks itu masih disana, mereka hanya tempat kita membuang sumpah serapah. Kepadamu, kepadaku.

Anak kompleks itu masih disana, mereka hanya tempat kita berpulang pada akhirnya. Tidak untuk mengulang.

Anak kompleks itu mungkin menertawai kita dari rumah yang baru nyala lampunya setelah senja yang kau benci.

Oh iya, aku lupa. Kau sudah tak pernah membenci senja lagi. Kau selalu diluar menatap matahari pelan terbenam. Baru pulang jika larut malam. Jika aku baru saja hendak keluar menghabiskan malam lewat pantulan air di pinggir aspal.

Ketika pagi tiba aku merebahkan badan diatas ranjang tak empuk lagi yang biasa kau tiduri. Kau jamah baik-baik tiap kotak polanya lalu tertawa pada merah jambu warnanya. Kau baru menutupi bibir hitammu dengan masker anti debu yang kau yakini itu.

Itu jawaban dari pertanyaanku selama ini.

Jika bumi ini luas, kenapa hanya anak kompleks itu yang sering kutemui? Jika bumi ini sempit, kenapa kita yang hanya sejengkal pandangan tak pernah berpapasan di pagi tak bertuan?

01 November 2012

See You

‘Welcome’ tak pernah semudah ‘Good Bye’. Yang memisahkan kecupan dan
pelukan bahkan saat jarak dan perbedaan kadang jadi momok utama.


Tentang bagaimana beberapa orang enggan mengucapkan ‘Good Bye’, sama
susahnya ketika mereka harus berkata ‘Welcome’. Bentuk-bentuk membuka
diri yang masih terselubung ketidak-percayaan diri menerima
sosok-sosok baru dalam kehidupan. Yang harusnya menjadi teman hanya
akan sebatas itu. Yang tetap bercinta, selamanya akan begitu.


Kekurangan cahaya? Ya. Prisma tak utuh tak lagi memancarkan semua
warna dalam gugus rasi bintang dari bulan purnama berlangit indah
semalam. Pekat? Tidak juga. Masih sama terangnya. Hanya tak ada
jalannya kesana. Tidak juga dari ekor komet yang hanya bisa dilihat
sekali seumur hidup atau jika beruntung berumur 150 tahun.


‘See you’, jadi pilihan akhir tetap. Sejak itu tak pernah lagi ada
‘Good Bye’. Hanya takut takkan pernah ada lagi ‘Welcome’.


See you, not soon enough I think.

19 October 2012

Masih Ingat Rasanya

Suatu hari di Makassar, 19 Oktober 2011


Siang sama panasnya dengan tahun ini. Hujan tidak lagi tiba pada waktunya. Ia lebih memilih lama bersembunyi dibalik awan, lalu membanjiri jalanan di akhir dan awal tahun.


Setelah menemanimu di salon dan kemudian menonton, saya dan kamu ada di sebuah pusat perbelanjaan rumah tangga. Saya dan kamu tau betul apa yang kita lakukan disana, saya dan kamu hanya tak tau apa yang bakal saya dan kamu pilih. Vas bungakah atau bunga itu sendiri. Lucunya, jam dindinglah yang terpilih.


Itu pertama kalinya saya memberikan hadiah untuk seorang perempuan selain yang disamping saya. Selain ibu saya. Rasanya lain, tapi saya masih ingat rasanya.


Sekarang, di Makassar, 19 Oktober 2012


Jam dinding itu pasti masih terpajang dirumahmu. Kecuali kalian lupa siapa yang menggantungnya disana, diatas televisi flat layar lebar. Jika kalian ingat, mungkin benda itu sudah ada di tempat sampah dari dulu. Atau sudah tergantung di rumah pemulung yang memungutnya kembali dari tempat sampah. Tapi saya masih ingat betul rasanya.


Saya masih ingat betul rasanya diteriaki perempuan itu tepat dirumahnya. Saya masih ingat betul membawakannya keranjang belanja. Saya masih ingat betul wajah berseminya saat anak sulungnya menikah. Saya masih ingat betul tamparanmu. Saya masih ingat betul wajah pria yang mengantarmu dibalik hujan. Saya masih ingat betul wajah yang kukecup menjelang pulang.


Saya masih ingat betul rasanya…


Selamat ulang tahun, Mami.

18 October 2012

Totally Randomness

Kemaren jadi hari paling random sekaligus bagi saya. Gak tau kenapa, apa efek seharian dirumah dan gak ngapa-ngapain, kehabisan bacaan atau lagi dumba’-dumba’ gleter. Pasalnya gini, beberapa twit, sms maupun BM teman saya tanggapi dengan kata-kata ataupun kalimat acak. Ni kepala kepentok kali yah waktu baru tidur.

Ini beberapa model totally randomness yang terjadi kemaren :

________________________________________________

Twit dini hari (efek baca Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika

Berubah! ‘Manusia setengah Salmon”! Dengan kekuatan ubur-ubur akan menghukummu! 

Manusia Setengah Salomon keknya keren juga, hmmm. Jadi ingat Salomon Kane x)) 

Ranma juga Manusia Setengah :| 

Asal jangan Setengah Hati aja *kemudian melengos pergi* 

________________________________________________

SMS dari Ndii

Ndii : Posisi?

Saya : Rumah om. Kenapa om? Jangan sakiti saya om?

________________________________________________

SMS dari Angga

Angga : Posisi?

Saya : Dirumah. Kenapa om? Mau tr (traktir, red) kah om?

Angga : Mdd, kukira lagi dimana

Saya : Yahh gak jadi traktir yah :(

________________________________________________

dan masih banyak SMS, BM, Twit random lainnya yang saya udah gak tau pada kemana kalo mau dicariin lagi satu-satu. Sekian dan terima kasih sudah mau membaca.

:|

16 October 2012

Lelaki Dengan Gelembung Air Di Sudut Matanya

‘Lalalalaaa… Goodbye days’


Lirik tersebut kemudian ditutup outro singkat sebelum keheningan setelahnya tercipta. Sesingkat hidup manusia tanpa kita sadari. Lagu itu mengalun menemani perjalanan pulangku dari keriaan yang belum hilang efek semalam. Diselang itu, ada kabar yang sangat pas dengan lirik akhirnya.


Dari sebuah broadcast teman, kudapati nama yang kukenal.


“Meninggl pacex yuni kodng td subuh„ smg Om prg dgn tenang n diampuni sgla dosa2x..”



“Yuni Chubz?” BMku paginya
“Iyah,” balas yang disana



Jantung berdegup lebih kencang. Seketika nyawaku mengumpul, mencari tau arah dan cerita. Ya, tidak salah lagi. Ayah salah seorang teman baikku telah berpulang, dipanggil lebih cepat dari kita yang tersisa untuk jadi peringatan. Setahuku memang, belakangan beliau sedang sakit, kini ia meninggalkan sakit.


Saya ingat ketika pertama sekaligus terakhir melihatnya, lebaran hari kesekian sepertinya. Hardikan diterima dari anaknya yang kutau betul kebaikan hatinya. Ia hanya tak tahan lagi. Mata yang kutatap selama dua detik sebelum kulempar kembali pandanganku pada gelas cola, mengisyaratkan penyesalan, perbaikan dan kemauan yang keras dibalik cekungnya. Raganya yang kerontang seperti tak siap menerima pembalasan, begitu rapuh bersama hatinya. Tatapan keras itu hanya jadi auman kucing dibanding segalanya yang mengabaikannya.


Aku tak tahu apa-apa. Aku tak terlalu mengenalnya. Aku hanya kenal anaknya, yang kutau betul kebaikan hatinya. Ia hanya tak tahan lagi.


Ia lelaki dengan gelembung air di sudut matanya.


Istirahat yang tenang disana.

13 October 2012

Uyeee~


Uyeee~

Akhirnya… finally…at last…uyeee~

Ahaha absurd banget saya nih. But here I am, so happy after all. Akhirnya kegalauan saya dua hari ini kebayar juga dengan kata “Selesai” di akhir  film berdurasi , Perahu Kertas 2! Uyeee~ (lagi ahhh :p)

Gimana gak galau, saya baru menyelesaikan novelnya 2 hari lalu melalui e-book yang bikin mata lumayan berair kalo dibaca. Selain itu saya melewatkan Perahu Kertas pertama L. Makanya agenda setelah menamatkan novel adalah nonton ending visualisasi novel tersebut. Dan tak bisa dipungkiri, novel dan filmnya membuat saya merinding di tiap plot yang disuguhkan manis dengan cerita yang memaksa perasaan naik-turun ini. Dan akhirnya tibalah saya di moment me-review novel sekaligus filmnya.

Cekidot                !

10 October 2012

Tidak Seperti Malam Ini

Setelah menembus debu dan asap karbon dioksida hasil pembakaran kendaraan di jalanan sampailah ditujuan. Sebuah bilik ATM persis disamping Bank yang baru-baru saja tutup.


Motor kuparkir asal, helm kududukkan saja di joknya. Lalu melengos pergi kedalamnya. Melakukan prosesi standar penarikan uang tunai lalu kembali ke motorku. Ia tak bergeming, tidak juga helmnya. Seorang lelaki paruh-baya menyapu debu dari pelataran parkir mungil itu. Bagian ini seharusnya tak pernah ada. Aku menarik dua koin lima ratusan dari sela jins. Melemparkan senyuman dan ucapan terima kasih padanya. Lalu benar-benar pergi dari sana.


Ya, hanya seperti itu kepercayaan kita titipkan. Bisa saja motorku sudah tinggal ban atau helm raib dari tempatnya. Hanya seperti itu, kepercayaan dinilai dengan uang seribu. Tidak, bahkan sejuta. Tidak, seharga motor dan helm itu.


Bagian itu harusnya tak pernah ada. Tapi itu bagian dari toleransi kepercayaan.


Tidak seperti malam ini. Aku merusak beberapa kepercayaan. Aku sudah lebih tua sembilan puluh tahun darinya soal merusak kepercayaan. Juga sepuluh tahun lebih tua darinya soal menjaga kepercayaan.


Tidak seperti malam ini. Kau melemparkan kecupan lewat udara. Tidak dengan maksud, tapi aku menyambut.


Ini salah.


Cinta tidak pernah lebih mudah dari ini.

08 October 2012

Makassar, 8 Oktober 2012

Holaa..


Akhirnya posting lagi. Gak ada kesempatan posting efek sibuk hari-hari terakhir Musik Atau Mati kemarin sih.


Mmm… Sebenarnya gak punya ide apa-apa sih buat posting, so saya cuma pengen share kejadian-kejadian belakangan aja yah.


Kemarin akhirnya dengan mata-kepala-pundak-lutut-titit-lutut-titit saya melihat band idola dari kecil, SHEILA ON 7 woohooo..!! Oke menurut kalian mungkin saya over, tapi menurut saya, So7 adalah band Indonesia yang wajib ditonton sekali seumur hidup. Bagi saya, selain band idola, Sheila on 7 juga band yang menemani perjalanan hidup. Saya pertama kenal band ini sekitaran SMP dengan single fenomenalnya, Dan. Pertama kali saya belajar gitar juga lagunya So7, Buat Aku Tersenyum. Banyak hal-hal yang saya alami juga ‘kena’ dengan lagu-lagunya. So, thanks So7 sudah mampir ke Makassar dan mewujudkan salah satu mimpiku. Bondan And Fade 2 Black juga gak kalah seru penampilannya malam itu :D


Lalu apalagi yah? Oiyah denger kabar keluarga besar bakal tur Eropa. Gak, saya gak ikut, itu udah jelas hehe. Tapi tetep, saya nitip foto-foto pemandangan dan venue-venue disana. Tau nih, belakangan pengen aja liat tempat-tempat baru. Tujuannya sih untuk merangsang hasrat nulis lagi. Tau deh kok bisa sampe segitunya. Ada gak yah nama kelainan ato penyakit kayak gitu hahaha… Semoga gak ada. Oiyah efek mereka pergi tur, saya jadi bisa pinjem sepeda sepupu demi proses penurunan berat(perut) badan. Saya emang pengen gemuk tapi ni body udah oke perut kok tambah buncit aja. Yang ada celana pada nyanyi, “perutku dulu&; tak begini&; tapi kini tak cukup lagii&;” hehehe


Nami juga udah selesaikan proses edit dan posting ‘Fate’ sampai chapter terakhir dan udah nagih reviewnya hehe. Tenang aja, Nam bakal segera diposting kok.


Trus sekarang-sekarang juga sepi banget hari-hari. Harli dah dalam holiday trip-nya ke Bali. Tau tuh udah berapa hari disana. Berasa setahun. Susah dihubungi pula. Abis itu katanya balik sih tapi lanjut ke Toraja. Awal November malah udah di Jakarta buat kerja. Dia keterima sama ‘Orang Tua’, dasar sukanya sama om-om, eh. LOL. Peace, Har. Biarlah, dia lagi nikmatin moment wajib-sekali-seumur-hidupnya juga hehe. Happy holiday yah, Har. Nitip foto-foto juga :p


Oiyah, di Makassar lagi banjir event. Ada Road to Soundrenaline, lanjut Noah, disusul Creed, denger-denger ada Sepultura dan Musikimia juga. Wahh, MakassarTIX harus memasuki fase serius nih.


Kantor masih gitu-gitu aja. Gak seru huu.. Pak Sofyan juga cepat sembuh yah. Hmm… Oiyah soal kerjaan denger-denger ada gosip, bakal ada proyek baru di tempat yang asoy gitu. Tempatnya masih rahasia, takutnya gak jadi kan malu duluan udah di-publish hehe. Doain aja lancar trus bakal ikut kesana juga.


Mmmm… Apalagi yah? Oiyaaahhhh… Kemaren niat balikin buku karya @hurufkecil sekalian tanda tangan buku, ternyata ada event Kompas Gramedia Fair. Gilaaa itu bukuuu bejibuunnn, diskon pula. Apa mau dikata hari gini saya bokek-pake-banget-amat-sangat. Hasilnya cuma basahin buku-buku aja pake iler hehe becanda ding. Tapi aseli, totally galau kemaren tuh, heuf.


Sampai sekarang Proyek_R, sama juga gak jalan-jalan :| Ada-ada aja halangannya orang nulis. Ya mending kalo hasil tulisannya bagus, kalo jadinya gitu-gitu aja yaaa kelaut! Tapi ada yang pernah bilang, kalo nulis, tulis aja apa yang pengen ditulis. Selanjutnya bakal kebawa kemana arahnya. Gak tau tuh siapa yang bilang, saya sendiri kali yah :p


Selain itu mesti selesaikan deadline baca Rectoverso, Filosofi Kopi, Rembulan Tenggelam di Wajahmu sama Bidadari-Bidadari dari Surga. Wuihh.. Gile Tere Liye gak ada yang tipisan dikit apa bukunya? Hehe. But, I enjoy it.


Eh, tadi katanya gak ada ide nulis, tau-taunya dah panjang aja ni postingan. Yowes, pamit dulu yah readers. Lain kali disambung.


Pesan hari ini, buanglah sampah pada tempatnya!! Bombe’ kantongan!! Dan satu orang satu pohon!! Merdekaa!! Merdekaa!!


PS : Play Station (yaaaeeaaalahhhh)

01 October 2012

Untung Tidak Pernah Seberuntung Ini

Holaa..
See you again in my blog. It’s tumblr. Yes, but it’s my blog. So what? *ngajak berantem*

Kali ini saya cuma mau berbagi cerita tentang ‘keberuntungan’. Beberapa orang percaya mereka selalu beruntung, beberapa lagi menolak mempercayai mereka sedang sial. Tapi bagi saya, 26 September 2012 adalah hari paling beruntung sepanjang hidup. Tanpa diduga-duga, saya memenangkan tiga kuis di twitter. Iyah, tiga kuis dalam sehari!!! *salto disusul kayang indah*

Kuis pertama bertema #HILITE4nniversaykuis. Dalam rangka ulangtahun yang keempat, band Indie yang masuk dalam fave playlistku ini mengadakan kuis dengan 4 pertanyaan. Yaa..walaupun saya kenal banget sama manajernya tapi ini benar-benar keberuntungan. Penjurian menjatuhkan pemenangnya ke akun twitter @restuwashere.



Kuis kedua adalah kuis dari film yang lagi happening banget di kalangan anak gaul eh galau di seluruh Indonesia. Yap, apalagi kalo bukan Radio Galau FM. Awal nonton film ini saya cuma pengen liat wajah uwnyu Natasha Rizki, eh pas nonton jleb banget ni cerita sama kisah perjalanan asmara bocah keren yang lagi nulis blog ini. Jleb kedua datang dari soundtracknya :|. Whatever, sutradara film ini menjanjikan hadiah bagi penonton dengan jumlah tiket terbanyak dalam hari itu, lalu di post di twitter via twitpict. Voila, saya menang dengan 6 tiket di tangan plus cewek-kece-jomblo-tapi-galau di latar foto itu, pfft, piss Har :pV.



Kuis ketiga adalah #DinnerwifMadameLSA. Kuis ini simple, tweeps (sebutan untuk orang yg pake twitter, gue gak ngerti kenapa mesti tweeps, kenapa gak twitterer aja? Whatever, lanjuuuttt *ala-ala Ariel*) diharuskan mem-follow dan menuliskan sebuah tweet yang bertema kasih sayang dan ditujukan untuk orang tersayang. Voila, tweet saya diangkat sebagai pemenang. Alhasil duduklah saya dan Harli si cewek-kece-jomblo-tapi-galau di sebuah rumah makan di salah satu Mall besar di kota Makassar ini. Ini tweet saya.



Didera semua kenikmatan yang mengejutkan ini saya masih tetap jomblo…(Eh kok saya nulis ginian, ya?)

Untung tak pernah seberuntung ini…

23 September 2012

Harli BestDay

Alarm tepat pukul 9 pagi sudah jadi tanda kalau dalam 15 jam kedepan tepat pukul 00.00 bakal ada yang ulang tahun. Tapi tanpa perlu membaca, saya sudah tau siapa yang bakal merayakan hari besarnya. Yap, Harli, my galaufriend LOL.

Aslinya dia berdomisili di Jakarta, tapi berhubung lagi liburan, so here she is, in Makassar. Hari ini saya tidak banyak merencanakan surprise party, di otak yang ada hanya teng jam 12 malam sudah nongol dirumahnya. Akhirnya hari dilewati biasa-biasa saja. Jalan, nongkrong sampe ajakan nonton diladeni. Larut dalam euforia nonton, sampai-sampai saya blank untuk persiapan surprise party itu sendiri. Alhasil, jam 10 malam saya sama sekali gak punya konsep apa yang bakal bikin gregetan surprise ini nantinya. Whatever, show must go on.

Malam makin larut, kesempatan nyari kue apalagi kado sudah gak mungkin lagi. Dalam kegelapan malam saya mendapat secercah cahaya (baca: ide). Yang jadi andalan saya dan harli selama ini itu satu, BigMac! Alhasil dalam perjalanan menjalankan niat saya menyempatkan singgah di warnet kenalan, menghabiskan waktu sekalian reunian karena lama tak berjumpa. Saking larut dalam perbincangan sampai-sampai lupa waktu, jam menunjukkan jam 11 malam lebih. Maka ngacirlah saya ke kedai junkfood yang menyediakan burger super besar itu. Yang tak disangka lagi-lagi, kedai terdekat dri rumahnya itu tutup. Iya, TUTUP. Arghh. Saya baru nyadar kalo 2 hari terakhir beberapa kedai siap saji memang tutup mengingat ada beberapa peristiwa kurang mengenakkan dan mampu menjadikan ancaman bagi pengusaha kedai tersebut. Tapi tidak menyerah sampai disitu, masih ada cabang kedai tersebut yang tergabung dalam sebuah mall. Maka ngacirlah saya kesana. Okesip, BigMac pengganti tart sudah ada, sekarang lilin. Dan sekali lagi yang amat sangat tidak diperhitungkan, jam segini mau nyari lilin ultah dimana, arghh. Jadilah perjalanan panjang ke rumah Harli diwarnai dengan singgah di tiap swalayan yang masih buka saat itu. Kalo di warung yang ada lilin mati lampu, gak keren. Tapi dewi fortuna kayaknya udah tidur. Gak dapet lilin ultah, adasih tapi yang uwnyu-uwnyu gimana gitu bertuliskan “Happy Birthday” dan berwarna-warni. Gak kece. Yaudahlah namanya udah niat apalagi udah H-6menit jadilah saya orang gaje nongkrong depan rumahnya orang. Spekulasi nelpon adalah cara paling tepat memastikan si empunya hajatan belum tidur. Cerita dikit dan voila!

Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday Happy Birthday, Happy birthday to you&; Nyanyi saya sumbang :|

Singkat cerita yang udah kepanjangan, malam itu dihabiskan dengan cerita ngalor-ngidul sambil nunggu paket burger super besar itu dihabisin si empunya hari. Ditutup dengan selamat malam dan perpisahan masing-masing yang harus kembali ke peraduan.

Sekian, buat hari ini.

Paginya dapet BM. “Tu, bentar keluar yuk. Jam 11-12an gitu” *tepok jidat*

But that was a great idea after all. Daripada seharian ngejamur dirumah dimakan rayap pemakan jomblo, jam 11 malem saya sudah di depan pagarnya lagi. Lagi-lagi singkat cerita yang udah panjang pake banget, kita cuma nyantai di Cafe gitu. Dan cerita punya cerita, kenapa dia ngotot banget ke Cafe padahal saya udah nyaranin warkop yang deket juga dengan rumahnya, ternyata si Harli punya wishlist sendiri cing. Kira-kira bunyinya gini, “Ulang tahun ini harus dirayain dengan nongkrong di Cafe”. Emang ni anak telat gaul. Malam ini ditutup dengan melek sampe subuh (efek kopi) dan amazing saturday-mid-nite. I hope this will be your greatest birthday ever, Har. Setidaknya ada saya di dalamnya haha. Okay, post ini sudah panjang pake banget.

Saya tutup dengan, Happy Sunday all. Happy Birthday, Har. My galaufriend. All the best wishes for you.

20 September 2012

Bulan Dengan Huruf W

Hanya sebentar aku bertatapan dengannya. Saat itu bulan sedang penuh. Tak sama sekali kuperhatikan terangnya. Mungkin tertutup bintangnya.

Hanya sesaat waktu berlalu, ia muncul lewat percakapan teks. Menari dengan riangnya, berbagi sinarnya. Menandakan peraduannya. Hanya melihatnya aku tertawa. Keriangannya mengunci tiap malamku.