Email Subscription box byLatest Hack

Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

03 April 2013

Review Film : Madre

Finally, I got to see this movie, Madre. Film besutan Benni Setiawan yang dipercaya sebagai sutradara sekaligus penulis skenario ini, diadaptasi dari buku kumpulan cerpen Dewi Lestari alias Dee. Siapa yang tidak tau kehandalan tulisan wanita yang satu ini, apalagi dijadikan film. Perahu Kertas dan Rectoverso sudah sukses membanjiri bioskop. Saya sendiri sangat suka dengan dua judul film diatas, begitu pula bukunya.

Madre, yang berarti 'ibu' dalam bahasa spanyol ini, adalah nama sebuah biang roti dari suatu toko roti, Tan De Bakker. Biang roti ini diwariskan pada seorang pemuda Bali bernama Tansen Roy Wuisan (Vino G. Bastian) oleh Tan Sie Gie yang tak pernah dikenalinya. Usut punya usut, Tan adalah kakek Tansen. Dalam sehari, sejarah hidupnya berubah. Sebagai manusia yang 'bebas', Tansen berniat menjual biang roti tersebut kepada Mei (Laura Basuki), seorang pengusaha toko roti yang sudah besar dan ternyata salah satu blogwalker di blog Tansen sendiri. Toh, dia tidak lihai membuat roti.

Dalam perjalanannya menghidupkan Madre dan Tan De Bakker, asmara diantara keduanya hidup dan bersemi. Bagaimana mereka menghidupkan perasaan mereka berdua? Sakiskan Madre di bioskop kesayangan kamu, sudah mulai tayang sejak 28 Februari 2013 lalu loh.

Dari struktur cerita, siapa tak kenal Dee begitu menuangkan ide-idenya dalam tulisan. Saya sendiri adalah pencinta tulisannya. Bayangkan, bagaimana detail ia menjelaskan tahap-tahap pembuatan roti, dibumbui asmara Tansen dan Mei. Namun, sebagai pencinta dan penikmat film Indonesia pada khususnya, kita memang tidak bisa terlalu berharap banyak pada film yang diadaptasi dari buku. Pasalnya, dalam buku, pembaca menentukan sendiri imajinasi mereka, sehingga saat dituangkan dalam film para pembaca akan merasa kecewa sendiri karena tak sesuai deskripsi imajinasinya. Memang, tak ada yang mampu mengalahkan imajinasi pembaca.

Disinilah peran penulis skenario dan sutradara berperan. Dalam Madre, Benni Setiawan yang mengambil kedua peran tersebut. Dengan pilihan tepatnya mengeset Tan De Bakker ke Bandung -bukannya Jakarta seperti di bukunya-, Benni sukses menghidupkan kesan klasik dari toko roti berumur puluhan tahun tersebut. Juga beberapa intrik yang kemudian diciptakan sebagai bumbu pelengkap mata dan cukup mengaduk perasaan penonton. Khikmawan Santosa, Afgansyah Reza dan Nadya Fathira juga sukses menghidupkan Madre lewat lantunan merdu musik yang mengiringi perjalanan Tansen dan Mei.

Film ini, bagi saya, sukses menghidupkan semua karakter di dalam buku tersebut. Vino G. Bastian dan Laura Basuki memiliki chemistry yang kuat dalam memerankan karakter masing-masing, dari yang senang, sedih sampai canggung-canggungnya mereka saat bertemu satu sama lain. Menampilkan scene-scene yang membuat mata tak mau berkedip, khususnya adegan yang diambil di Bali. What a beautiful waves! Scene tersedih buat saya sendiri bukan pada saat Tansen dan Mei saling merasa kehilangan, justru saat Pak Hadi tau Madre akan dijual. Oh iya, Pak Hadi diperankan oleh aktor kawakan, Didi Petet. Jelas kan maksud saya kenapa scene itu saya pilih sebagai yang tersedih, hehe.

Intinya, film ini sekali lagi akan meramaikan bioskop tanah air. Waktunya membuat film Indonesia menjadi tuan rumah di negara sendiri. Two thumbs up for all crew Madre The Movie!

Tansen   : "Yaa, siapa yang tahu, kayak kita ketemu sekarang ini."
Mei          : "Tuhan."

27 March 2013

Review 'See You When I See You' karya Namirasicha


Cinta dan persahabatan adalah bumbu paling sedap dalam tulisan. Ide ini diterapkan Namirasicha dalam karya terbarunya, See You When I See You. Bumbu sedap nan sederhana ini dilengkapi dengan kisah cinta segitiga yang rumit, dipanaskan dengan konflik cerita dan plot yang tak berubah dari cirri khas penulisnya, dan dihidangkan dengan detail matang.

See You When I See You, sebuah kisah yang bercerita tentang 4 sahabat, Cheryl, Benji, Jemima dan Ezra. Keempatnya sudah terikat persahabatan sejak kecil, especially, Benji dan Cheryl yang sudah bersama sejak sekolah dasar.

Cewek dan cowok selamanya tak akan bisa menjadi sekedar sahabat, pesan dalam kisah ini. Kau tidak tau kapan kau akan menaruh hati kepada sahabatmu, bahkan kau tidak tahu sahabatmu menyimpan rasa yang sama. Hanya saja mewujudkan perasaan itu bukan hal yang mudah. Belum lagi, masing-masing dari mereka memiliki mimpi yang ingin diwujudkan. Akhirnya, persahabatanlah yang akan dikorbankan. Itulah yang terjadi pada keempat sahabat ini.

Pada akhirnya, mereka harus bertarung dengan perasaan dan egonya masing-masing. Apakah mereka akan tetap menjaga lingkaran persahabatan itu, atau malah melewati batas dengan meluapkan segala perasaan. Kalau penasaran dengan kisah 4 sahabat ini dalam mengejar mimpi dan cintanya, kamu wajib baca novelnya. Jangan harap nyari di Gramedia bisa dapat, karena emang belum masuk disana :p

Basically, kisah ini terdengar biasa saja. Cinta segitiga bukannya yang paling sering diangkat dalam cerita, baik buku maupun film? Hanya saja, kemasan kisah cinta segitiga dalam See You When I See You dikemas apik dengan mempermainkan rasa penasaran pembaca. Penulis sukses dengan ide (jahil) awalnya, membingungkan pembaca.

Penciptaan karakter juga berlaku sangat baik. Mengarahkan 4 karakter utama dan beberapa karakter tambahan sepertinya mudah saja didirect si penulis. Detail tempat juga menjadi cirri khas penulis. Sicha- begitu ia akrab dipanggil- mampu menggambarkan bentuk ruang dalam cerita dengan baik. Pembaca dengan mudah dapat berimajinasi membayangkan tiap kejadian dalam kisah ini. Saya harus googling dulu saking penasaran dengan keindahan tempat-tempat yang disebutkan di dalam. (hehe) Kesannya, saya tidak hanya membaca novel, tapi juga seperti menonton film. Kayaknya bias penulis yang satu ini direkrut untuk nulis skenario :p

Dari semua kelebihan cerita ini, kekurangannya hanya di detail waktu. Alur waktu kadang melompat terlalu cepat tanpa tambahan detail. Efeknya,pembaca akan merasa sedang berada di suatu tempat, dalam beberapa kedipan, sudah di tempat lain dengan suasana berbeda. Begitu juga untuk ending, sepertinya berjalan dengan lambat. Tapi untuk pembaca yang suka dengan genre tulisan romance seperti ini, malah akan menjadikannya senjata terbaik untuk meningkatkan rasa penasaran.

Overall, this is an A story. A not for point, it for Awesome! Dibuat lebih padat dari dua cerita sebelumnya tapi tidak kalah menariknya. Oh iya, dan jika kamu mengikuti karya-karya Sicha, ada kejutan menggelitik di See You When I See You. *ihhik*

NB ( buat penulis ) : Banyak typo di tulisan ini :3

25 February 2013

Tertidur dengan "Sleepless in Seattle"

Siapa yang tidak tercengang dengan akting Tom Hanks? Atau siapa yang tidak terpukau dengan kecantikan Meg Ryan? Disini, mereka dipertemukan oleh takdir. 

Sleepless in Seattle (1993), berkisah tentang seorang suami, Sam Baldwin (Tom Hanks) yang telah kehilangan istrinya, merasa hidupnya hampa. Sejak itu, ia jarang tertidur. Ia akhirnya pindah ke Seattle, berharap dapat melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang istrinya.

Anaknya, Jonah (Ross Malinger), yang tak tahan melihat ayahnya seperti itu memutuskan untuk menelepon salah satu stasiun Radio nasional yang kemudian menyiarkan langsung kisah singkat Sam. Tak dinyanya, siaran itu banyak menarik perhatian seluruh negeri, termasuk Annie Reed (Meg Ryan). Annie. seorang jurnalis yang telah tunangan ini seketika terenyuh setelah mendengar kisah Sam di Radio memutuskan bertemu dengan si tak-dapat-tidur-di-Seattle, dengan alasan ingin mengangkat kisahnya. Apa daya, dalam pandangan pertama ia sudah kecewa.

Annie kembali rasional. Tidak mungkin ia dapat jatuh cinta melalui kisah di radio, atau hanya dalam pertemuan pertama, atau bahkan kisah-kisah dalam film. Tapi, semua akhirnya menemukan 'tanda'-nya.

Sleepless in Seattle adalah film bergenre drama yang sangat menyentuh. Bagaimana seseorang mempercayai forever love, seorang anak yang tak tega melihat ayahnya sendiri, dan seorang wanita yang dalam hubungan pertunangannya malah mencintai orang yang hanya didengarnya lewat radio.

Mungkin secara rasional, kita tidak akan mempercayai kisah cinta seperti ini, tapi beberapa dari kita pasti pernah merasakan 'tanda-tanda'-nya. Tinggal keputusan kita, apakah akan diam dan melewatkannya, atau mampu menerima dan mengejarnya seperti Annie.

26 November 2012

Blog anak SMA selalu menarik untuk diikuti. Bukan hanya karena nuansanya yang masih segar, topik-topik bahasan yang dipost juga seru-seru. Bagaimana pola berpikir anak jaman sekarang dengan jaman dulu. Yah walaupun beda jaman, saya rasa sama saja, hanya alias dari beberapa konflik yang berbeda jaman. Yaa, seperti blog yang satu ini, blog yang saya beri tema: Galau. Anak muda bangeeeet :p

Galau tidak hanya memakan korban di jejaring sosial facebook dan twitter. Di dunia blog, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Blog kadang menjadi tempat curhat yang baik saat tak ada lagi yang bisa mendengarkan atau hanya kata-kata yang bisa menjelaskan. Riri dalam hal ini menuangkannya dalam bahasa-bahasa yang elegan. Kalau kalian tak mengenalnya atau melihat foto di blognya, kalian takkan menyangka kalau dia siswi SMA. Mungkin efek penuhnya otak akibat kebanyakan baca buku di koleksinya yang memenuhi rak (dan membuat saya ngiler).

Di blog yang beralamat di http://nurulfajriyahd.tumblr.com/ ini lebih bercerita kuat lewat gambar dan quote. Hanya fasilitas utama dari blog yang baik itu sendiri, yaitu fitur “share” haruslah menjadi pelengkap tulisan-tulisan “galau” matang gadis berhijab yang satu ini. Catet. Postingan pertama blog ini bertanggalkan 17 Oktober 2012, huu so fresh. Tapi dari beberapa post diperoleh data bahwa ada blog pendahulunya yang beralamat di wordpress. Ouuhhh… Apakah lebih banyak postingan galau disana pemirsa? Haha bercanda kok readers. Blog ini juga menyuguhkan beberapa hal menyentuh dan lucu kok. Seperti harapannya untuk membahagiakan orang tua atau kisah “lagi itu”-nya yang asli ngakak bin sedih sih sebenernya di ending.

Overall blog ini dapat poin 7 dari 10. Minus dua karena posting galaunya, minus satu karena kurang fitur sharenya :3

Keep posting, Ri! :D

Penampakan :



(diambil pada tanggal post ini dibuat)

14 October 2012

Review - Kata Hati karya @benzbara_



Prolog

Semalaman saya menyelesaikan buku yang sudah saya incar-incar sejak awal peluncuran ini. Sayangnya tidak saya dapatkan di toko buku langganan saya. Alhamdulillah, melalui jejaring sosial twitter saya mendapat referensi sebuah akun yang menyewakan novel, @R_Novels. Koleksinya lengkap dan salah satunya adalah ‘Kata Hati’ karya Bernard Batubara atau dikenal di twitter dengan akun @benzbara_ yang juga pemilik akun @RadioGalauFM berikut penulis buku dan script filmnya. Saya gak akan ngebahas yang lain, saya cuma akan mereview lewat keterbatasan saya berbahasa.

Sinopsis

Mengulang kisah di buku ini, menceritakan seorang Randi yang berusaha menyembuhkan luka hatinya akibat perselingkuhan yang dilakukan Dera, kekasih yang telah bersamanya selama lima tahun. Luka itu jelas masih membekas mengingat lamanya kebersamaan mereka. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari saat bersama pun membayangi di tiap sudut kota terutama Djandello Koffie, kafe tempat mereka biasa menghabiskan waktu.

Tapi ditempat itu pula lah, Randi bertemu Fila. Gadis yang secara pintas diliatnya di kafe berujung pada penyembuhan luka hatinya selama ini. Hubungan mereka berlanjut akrab hingga tumbuh benih-benih cinta tanpa disadari. Di tengah mekarnya perasaan yang bersemi diantara keduanya, sosok Dera muncul lagi. Dera, yang ingin kembali ke pelukan Randi mengancam keberadaan Fila yang trauma ditinggalkan oleh orang yang ia sayang.

Tapi, semua dijawab oleh kata hati. Dera memilih pergi bersama Andre, selingkuhan yang kemudian menjadi pacarnya. Orang yang menginginkan Dera yang mana ‘diinginkan’ adalah perasaan yang tak bisa lagi diberikan Randi. Randi sendiri memilih bersama Fila yang awalnya pesimis bahwa bisa bersama Randi sejak kemunculan Dera. Fila sendiri akhirnya dapat mengungkapkan perasaannya dan menahan orang yang paling disayanginya, dan tak lagi kehilangan. Semua berakhir bahagia dengan senyuman Randi dan Fila dari Djandello Koffie, aroma kopi-cokelat dan kumpulan foto mereka.

Review

Kisah yang menceritakan tentang kehilangan dan membuka diri adalah inti buku ini. Seseorang boleh saja terluka tapi mereka harus tetap realistis menghadapi hidup. Membuka diri adalah salah satu cara mengobati luka tersebut. Lucu, semalam saya baru saja membahas tentang ‘membuka diri’ dengan seorang teman.

Gaya bahasa buku yang termasuk genre populer ini jelas biasa saja. Bahasa sehari-hari yang nyaman dan tak susah ditangkap. Penggabungan kata menjadi suatu kalimat pun tak perlu ritme yang saling melengkapi satu sama lain.

Saya selalu kagum dengan penggambaran detail tempat, dan Bara adalah salah satu yang membawa saya langsung ke tempat di dalam ceritanya. Saking penasarannya, saya googling juga gambar Djandello Koffie ini. Dan saya rasa, suatu hari saya harus kesana. Sebagai penikmat kopi, juga buku.

Tapi dari semua kebahagiaan cerita dan kekaguman, saya merasa buku ini amat datar. tidak ada ‘merinding’ yang biasa saya rasakan saat membaca. Garing sih tidak, hanya mungkin kurang feel. Itu pula tampaknya yang menyebabkan saya dapat dengan cepat menyelesaikan cerita ini. Tidak dengan buku lain yang mana saya ingin berlama-lama tenggelam didalamnya.

Tapi buku ini sukses membuat saya penasaran dan begitu menyelesaikannya saya mendapat kepuasan yang lebih lagi. Takjub. Mempelajari ‘kehilangan’ dan ‘membuka diri’. Salut :)

13 October 2012

Review - Fate karya @Namirasicha



Akhirnyaaaaa… lanjutan ‘A Thousand Years’ keluar juga sampai di chapter akhir. Kali ini si penulis pinter, ngupload chapter demi chapter perlahan-lahan. Niat bikin mati penasaran ato apa nih buu… hehe :pV

Tapi sebenarnya tau kok, dia kerepotan di proses editing. Seorang penulis pasti ingin tulisannya yang dibaca banyak hati dengan mulus tanpa celah. Yap, tapi disinilah tugas saya mereview, untuk menemukan celah. Jahat banget yah kedengarannya :p

Oke lanjuuuuutttt??! *ala-ala Ariel*

Yaudah karena gak ada yang nyahut jadi saya lanjut aja yah.

Fate, judul yang diberikan pada novel bergenre popular yang satu ini sama menghanyutkannya dengan pendahulunya ‘A Thousand Years’.  Alur yang bagai ombak mengombang-ambingkan pembacanya hingga tak ingin ke tepian sebelum selesai membaca. Seperti saya, juga Dede teman saya yang sudah terbius dan meminta novel lanjutan ini yang sudah kukirim pagi tadi. Lemparan-lemparan lorong waktu di kisah gelembung Luca-Jenna kali ini juga membawa pembaca flash back ke kisah novel sebelumnya. Dan plot, ini yang paling menarik. Bagi saya lebih menceritakan proses bertahan terhadap hati yang sudah ditakdirkan. Bagaimana Jenna bertahan tanpa Luca yang menemani  Monika mantannya yang pernah mencampakkannya dulu. Lalu Jenna yang kemudian bertemu Keegan. Kali ini saya benar-benar tidak bisa menebak alur cerita. Awalnya saya kira Keegan bakal mirip Mario sehingga konflik perasaan akan makin dalam menonjol disini. Tapi tampaknya penulis menolak kisah mainstream di sinetron-ftv-drama picisan seperti itu. Ia menciptakan Keegan yang ternyata mirip Luca dengan versi lebih rapi dan kaya. Bagaimana Jenna sampai hilang ingatan juga memacu rasa penasaran tak berujung yang takkan pembaca dapatkan jika tidak membacanya hingga selesai. Oiyah karakter Alice juga menambah bumbu cerita ini. Selain Lana yang otomatis membuat saya galau begitu membaca nama itu nongol disana (gagal move on :p).

Sekali lagi saya dibuat merinding oleh beberapa bagian cerita ini. Seperti saat Jenna sadar dari kecelakaan dan yang ia ingat hanya Keegan sementara Luca adalah sosok yang dihadapannya. Atau ketika semua ingatannya kembali di hari pernikahannya dengan Keegan yang kemudian merelakannya pergi mengejar takdirnya itu. Sosok dewasa Keegan seperti saya temui pada Remi dalam Perahu Kertas. Selain itu dari namanya, Keegan, penulis gak sedang ngeracik formula nama dari Kugy-Keenan, kan? :p

Hal menarik lainnya saya masih temukan dalam cara penulis mendeskripsikan tempat-tempat dalam kisah ini dengan sangat detail, sehingga saya sendiri bisa membayangkan berada disana. Walau dibantu sedikit dari google images sih :p.

Kematangan menulis makin terlihat disini. Baik pemilihan kata dan artikulasi kalimat yang sambung menyambung menjadi satu itulah Namirasicha, eh. Intinya makin handal penulis muda yang satu ini dalam mematangkan diri lewat karya-karyanya. Two thumbs up! Jangan mudah puas dan jangan berhenti berkarya. Yang dua lagi kapan nih siap di-publish :p

Yaudah daripada monitor readers sekalian pada basah karena saya kebanyakan melet mending post ini diakhiri dengan wahyu pertama: Bacalah! Ya! Bacalah novel ini!

PS (yang bukan kependekan dari PlayStation) :

 *untuk penulis*

‘A Thousand Years’ dan ‘Fate’ yang saya suntik ke otak Dede, sahabat bertukar novel saya itu adalah versi PDF. Maaf saya menyalin dari K.com dan memformat ulangnya menjadi media e-book. Niatnya hanya untuk dokumen pribadi yang bisa dibaca dimana saja kapan saja dari BB saya, namun tetap ada rasa dihati untuk membaginya dengan penggila buku lainnya. I’m so sorry.

Review ini sendiri sudah lama ditulis, bahkan dimulai sejak selesai di chapter terakhir Fate, hanya saja saya memang malas postingnya. Karena sadar, begitu posting ini muncul di halaman blog dan sampai kepadamu, maka tidak akan ada lagi perjumpaan. Ya, setidaknya saya (mungkin) tidak punya lagi alasan berada di halaman mention akun twittermu sekedar nagih chapter berikutnya atau pinky-swear lagi, selain ngotorin timeline kamu mungkin. Saya cerewet soalnya, siapa suruh difollow, hehehe. Tapi apa mau dikata, setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, walau hanya lewat tulisan semua itu bisa terjadi. (sikasik, kok mendadak dangdut gini sih)

I just want to know you more

I hope someday I can meet you :)


*untuk readers*

Yang diatas gak usah dibaca, itu untuk penulis. Yaa kalo keburu dibaca abaikan saja. Mending langsung kesini untuk mengikuti kisah gelembung Luca-Jenna. Selamat membaca! J


Review - Perahu Kertas karya @deelestari




Siapa yang tidak tahu novel yang satu ini. Sebuah cerita yang begitu menggugah selera baca hingga tak ingin berhenti sampai akhir saat mulai membacanya ini dilahirkan Dewi “Dee” Lestari. Namanya sudah tidak asing lagi, bukan? Yap, orang yang sama yang menulis Supernova, Rectoverso, Filosofoi Kopi dan Madre. Semua buku yang sedang saya buru untuk diselesaikan. Tapi kali ini saya hanya akan mereview Perahu Kertas. Sebelumnya perkenankan saya sedikit menceritakan sinopsis kisah di novel ini.

Adalah Kugy, seorang gadis dengan mimpi menciptakan mimpi bagi anak-anak, keinginannya yang besar untuk menjadi Juru Dongeng dari kecil membuat karakternya sedikit unik. Menulis disecarik kertas yang kemudian dilipat menjadi perahu kertas dan dilepaskan dialiran air dimanapun ia dapatkan sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Ia menyebut dirinya sendiri, Agen Neptunus. Kebiasaan itu berlanjut hingga mengantar dirinya ke jenjang kuliah di Bandung. Bersama sahabatnya, Noni dan pacar sahabatnya, Eko. Karena keharusannya pindah ke Bandung juga, ia bertemu sosok Keenan, sepupu Eko. Keenan sendiri terpaksa kuliah di Bandung akibat paksaan dari ayahnya yang tidak setuju dengan kegemarannya melukis. Alhasil disanalah dia menimba ilmu dibidang ekonomi. Keempat orang ini kemudian memiliki ikatan yang erat satu sama lain. Pertemuan keempat orang ini pula lah yang kemudian membawa lika-liku perjalanan kisah asmara Kugy-Keenan.

Kugy yang ternyata sudah punya pacar bernama Joshua atau Ojos ini kemudian jatuh cinta dengan Keenan yang melengkapi dongeng-dongeng yang ditulisnya selama ini dengan ilustrasi. ia merasa dongengnya hidup bersama Keenan. Namun rasa itu disimpannya sendiri hingga muncul sosok Winda yang diperkenalkan oleh pasangan Noni-Eko kepada Keenan. Misi mak comblang pun berhasil, Keenan dan Winda makin dekat apalagi Winda adalah seorang kurator dan ayahnya adalah pemilik galeri Warsita, salah satu galeri terbesar di Jakarta. Maka jadilah mereka sepasang kekasih. Saat itu pula Kugy seolah menjauh, tak hanya dari Keenan namun dari Noni yang notabene adalah sahabatnya sejak kecil. Hubungannya dengan Eko masih baik-baik saja walaupun tanpa persetujuan Noni. Hubungannya yang retak dengan sahabatnya itu sendiri juga dikarenakan putusnya hubungannya dengan ojos. Kini ia benar-benar sendiri sampai kemudian cepat menyelesaikan kuliahnya dan kerja disuatu perusahaan advertising yang dipimpin Remi, yang kemudian menjadi kekasihnya kemudian.

Sementara Keenan sendiri, begitu tau lukisannya di galeri Warsita laris terjual semua, ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan konsentrasi pada melukis. Namun, dibalik itu semua akhirnya ia mengetahui bahwa lukisan-lukisannya ternyata dibeli oleh Winda sendiri. Winda melakukan itu semua agar mendapat kepercayaan lebih dari Keenan dan terus bersama. Keenan-Winda akhirnya putus. Keenan memutuskan ke Bali dan tinggal bersama Pak Wayan, kekasih lama ibunya, Lena. Disana ia ditemani sebuah buku tulis berisi tulisan tangan yang menceritakan sebuah dongeng. Tulisan itu tak lain dan tak bukan adalah milik Kugy. Dari tulisan itu ia selalu mendapat inspirasi untuk melukis. Dongeng itu bercerita tentang Jenderal Pilik, diambil dari nama murid mereka di Sakola Alit, sekolah untuk anak tidak mampu dipedalaman Bandung. Lukisan-lukisan bertema Jenderal Pilik ini menjadi perbincangan di kalangan penikmat lukisan dan kolektor. Hingga akhirnya lukisan pertamanya dibeli oleh tak lain dan tak bukan Remigius Aditya alias Remi, yang kemudian menjadi kekasih Kugy. Di Ubud sendiri Keenan mendapati sosok Luhde yang selalu menemaninya dalam masa susah. Disanalah asmara Keenan-Luhde bersemi.

Pertemuan kembali Kugy-Keenan dalam acara pernikahan Eko dan Noni membuka lembar-lembar asmara yang lama tersimpan. Namun apa daya, mereka masing-masing telah memiliki pasangan. Hingga kemudian takdir menunjukkan jalannya. Masing-masing pasangannya menyadari ada yang salah, “Hati tidak memilih. Hati itu dipilih”. Akhirnya dongeng indah terjadi di dunia nyata. Kugy dan Keenan memang ditakdirkan bersama selamanya. Endingnya sendiri ditutup dengan lipatan perahu kertas terakhir yang ditulis Kugy untuk Neptunus yang mana sangat penting hingga ia harus mengantarkannya sendiri ketengah laut dengan perahu. Disisi pantai sendiri, seorang Keenan tengah menunggunya dan K kecil diperutnya dengan senyum merekah.

Novel ini sendiri sangat ringan dibanding buku-buku Dee lainnya yang selalu bermain dalam prosa dan kalimat yang saling bersahutan. Mungkin karena cerita ini sendiri adalah proyek lama Dee yang pada kenyataannya sendiri adalah potongan-potongan cerita bersambung. Hingga kemudian ia merampungkannya kedalam satu novel yang sekarang menjadi best seller.

Karena gaya bahasanya yang santai, semua kalangan dapat menikmati novel ini. Alur ceritanya sendiri sangat mempermainkan perasaan. Kadang kita dihempas dalam kisah manis lalu dijatuhkan begitu saja pada kenyataan pahit. Saya sendiri selalu ditemani perasaan merinding menikmati buku ini dikarenakan faktor tersebut. Penciptaan intrik-intrik masalah yang biasa dikemas dalam hantaran kata dan perasaan luar biasa. Membuat siapa saja yang membaca pasti bergidik. Lalu ada pula gambaran keindahan Bandung dan Ubud yang sangat menyejukkan dibeberapa inti cerita.

Imajinasi saya sendiri tertantang pada karakter-karakter didalamnya. Bagaimana Kugy yang unik, Keenan yang penuh kejutan, Remi yang dewasa serta Luhde yang tenang dan penyabar. Tidak lupa juga beberapa tokoh penting seperti Noni, Eko, Karel serta keluarga dari Kugy dan Keenan yang turut meramaikan cerita. Hingga kemudian muncullah versi visualisasi dari novel ini yang memanjakan mata penontonnya yang dibuat penasaran oleh buku Dee tersebut.

Visualisasi saya sendiri dimanjakan, walaupun dari sisi script – yang saya juga tau bahwa membuat film dari adaptasi novel tidak gampang- agak sedikit mengecewakan dari segi dialog. Alur masa juga dipangkas agar mendekati waktu real sebuah film, walaupun versi film ini sendiri sudah terbagi menjadi dua part. Seperti kata Nami, “ tidak ada yang dapat mengalahkan imajinasi pembaca” :p

Tapi salut pada Maudy Ayunda yang 100% memvisualisasikan Kugy seperti di benak saya. Selain itu akting nomer dua saya persembahkan untuk Reza Rahardian yang memerankan Remi, sempurna (sekali lagi saya setuju dengan Nami untuk yang satu ini). Adipati Dolken sebagai Keenan dan Luhde juga patut diacungi jempol. Mereka begitu menghayati tiap karakter inti novel tersebut. Jempol lainnya untuk Hanung Bramantyo yang mentransformasikan kertas menjadi karya digital yang WOW kata ABG sekarang. Seperti menciptakan alternate ending yang bikin penasaran penonton, apakah ending Kugy-Keenan akan sesuai dengan cerita di novel. Tapi pada akhirnya memang ditutup dengan final ending yang sempurna. Bravo buat semua orang yang terlibat dalam film Perahu Kertas dan Dee yang menciptakan Radar Neptunus.

Saya Aquarius, saya juga agen-Neptunus dong :)

27 September 2012

Keepcalm-O-Matic

Pagi ini saking gak ada kerjaan nyasarlah saya ke rumah kedua saya. Rumah yang ada wifi dan kopi yang tinggal mencet udah jadi.


Laptop dibentangkan diatas meja, upil dikeluarin semua dan sedikit nyabutin bulu kaki berselancar-rialah saya. Berawal dari nyari avatar buat twitter anonim eh nyasar ke sebuah site lucu-lucuan. Yapp kayak judul blog ini, situs Keepcalm-O-Matic yang beralamat di http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/ menyediakan fasilitas untuk meng-generate gambar dengan tema “KEEP CALM” yang marak digunakan anak muda sekarang untuk berorasi terhadap sesuatu. Saya ingat banget saat Ariel ex-Peterpan keluar dari penjara, beberapa orang memasang display picture BBM dan avatar twitter dengan “KEEP CALM ARIEL IS BACK”. Kereeen…


Nah dari site tersebut saya banyak mendapat inspirasi seketika dan membuat beberapa pict yang menurut saya imajinatif, tsah. Inilah sekian dari beberapa contoh :


KEEP CALM AND LOVE CATS



Gambar ini dibuat dengan ide simple. Saya suka kucing. Sekian.



KEEP CALM AND BOMBE’ KANTONGAN


Nah ini idenya dari sebuah gerakan dunia tentang Go Green. Beberapa saat lalu, di twitter muncul gerakan dengan hashtag #bombekantongplastik, karena kepanjangan jadi saya merevisinya menjadi BOMBE’ KANTONGAN. Bombe’ sendiri berasal dari Bahasa Makassar yang artinya benci. Seperti saya, benci bumi saya sakit karena kebanyakan makan sampah plastik.



KEEP CALM AND USE iPhone 5



Nah ini nih yang jadi perbincangan dunia sekarang. Bahkan jadi trending topic hampir seminggu ini. iPhone 5 yang baru didirikan perusahaan raksaksa Apple asuhan Steve Jobs, my influence. So, i present to you this picture, Steve.



KEEP CALM AND THROW IT TO THE WINDOW



Gak, saya gak benci Windows kok. Saya masih pake produk yang satu ini di komputer saya. Hanya ekspresi kekecewaan terhadap sistem-berbayar.



KEEP CALM AND WHERE IS THE SCROLL



Yang ini terinspirasi dari salah satu film jagoan saya, National Treasure. Di seri kedua, Book of Secrets, diangkat soal lambang negara adidaya yang satu ini yang ternyata menyimpan banyak misteri. Di film tersebut dikisahkan sang elang memegang sebuah scroll seperti dokumen bukannya padi-gandum seperti yang terlihat pada logo diatas. CMIIW.



KEEP CALM AND STANDING FOREVER



Yang ini jangan ditanya. Ini band paling nge-top. Ngalahin Linkin Park ato bahkan Creed yang bakal datang ke Makassar dalam waktu dekat ini. So, i present to you all this picture, my friends.



KEEP CALM RESTU WAS HERE



Blog ini ditutup dengan gambar keren yang satu ini. Gue bangeeeetttt :p

20 September 2012

Review - A Thousand Years karya @Namirasicha

Hari ini seperti hari-hari biasa, gak ada kerjaan. Kantor gak manggil, teman pun gitu. Mau keluar tapi duit tinggal seribu kata Goliath T.T

Jadilah saya jalan-jalan di dunia maya saja. Niat nge-post blog terhalang karena entah mengapa, semua web dan launcher blogpost yang saya pakai gak bisa kerbuka. Sekalinya kerbuka malah gak bisa ngepost *tepok jidat*. Maklum saya surfing-nya via handphone.

Alhasil, pilihan berlabuh pada jelajah gak jelas. Sampai pada akhirnya saat saya mengunjungi site yang sudah lama tak saya kunjungi, Kemudian[dot]com. Sebuah situs dimana kita dapat saling share tulisan, baik itu cerita, sekedar puisi atau karya sastra dan dinilai sesama melalui komentar. Tidak butuh waktu lama, saya mendapati sebuah tulisan di halaman utama. Sepertinya baru saja diposting. Yang membuat saya langsung tertarik pada tulisan itu mungkin pertama judulnya, lalu tag-nya.

“A Thousand Years”, begitu tertulis jelas disana. Ya, seperti sebuah judul lagu yang dinyanikan Christina Perri. Lagu yang didalam liriknya, seorang gadis pernah menaruh penantiannya untukku (curcol :p). Kemudian layaknya sepasang kekasih yang bertemu lalu jatuh cinta tiba-tiba, seperti itu saya langsung jatuh cinta pada paragraf pertama.

Keseluruhan postingan ini gaya bahasanya keren. Memasukkan 4 bahasa di dalamnya adalah ide brilian. Dan tidak ada kecacatan dalam bahasa inggrisnya (saya gak ngerti bahasa itali dan belanda :p), kecuali EYD seperti yang dikomentari beberapa orang dihalaman komentar profil gadis belia penulis cerita di situs itu. Tapi bagi saya, gaya bahasa maupun pemilihan kata adalah pure kebebasan penulis. Tak ada batasan, tak ada halangan untuk membiarkannya berimajinasi bermain dalam kata-katanya.

Selain itu, cara penulis menyampaikan detail baik itu tempat, sifat maupun karakter fisik tokoh-tokoh di dalamnya sangat baik. Dengan bantuan penjelasan itu kita, pembaca, sudah bisa berimajinasi dengan rupa tokoh yang bisa kita bentuk sendiri dalam benak masing-masing. Saya sendiri menggambarkan Jenna seperti Cathy Sharon versi-agak-gemukan, Luca seperti Prince Luca Blight dari tokoh antagonis game Suikoden (gak tau kenapa yang kepikiran karakter itu, mungkin karena sama nama dan rambutnya yang juga awut-awutan -__-“). Atau bagaimana tempat-tempat itu dalam benak saya. At least, everything is drawn so clearly.

Yang kurang mungkin hanya jalan ceritanya yang mudah ditebak. Seperti saya yang sudah menemukan intrik Luca-Claudia-Marco sebelum sampai di point itu. Atau kejadian Marco menjelang pernikahan. Tapi penulis tetap meletakkan intrik-intrik tersebut dengan tepat dengan gaya bahasa yang khas serta dalam penyampaian yang menarik. Jadi sekali lagi saya berdecak kagum dari segi plot cerita.

Beberapa point dari plot ceritanya sendiri benar-benar membuat saya terbawa ke dalamnya. Seperti saat saya ketawa ngakak (yang disusul teriakan Ibu saya dari ruang tamu “Restu kamu gak kesurupan, kan?”) saat percakapan telepon Luca-Edo saat Edo mau nyomblangin Luca ke Luna. Atau saat mendadak terenyuh saat adegan Luca yang baru sadar saat kecelakaan dan yang pertama dia dapati dihadapannya adalah Jenna.

Saya juga jatuh cinta pada character-vision-story (isitlah yang baru ditemukan oleh saya sendiri sekitar semenit yang lalu) yang jadi garis besar cerita ini. Penulis menjelma menjadi semua karakter dari ceritanya. Seolah ia berperan menjadi setiap tokoh disana.

Sayang saya udah lupa akun saya untuk login ke site itu, tapi kalo boleh ngasih point. Saya kasih 8,5 dari 10. Well, you must try harder Sicha :)

Oiyah, sedikit tentang penulis, ternyata masih abg-pake-banget, baru lulus SMA bulan Mei kemarin (modal ngintip blognya :pV). Parasnya juga gak kalah menarik sama ceritanya >.<

Yang penasaran dan tertarik ingin membaca sendiri kisah “A Thousand Years” ini, bisa cus ke link berikut :

A Thousand Years

Blog pribadi penulis sendiri bisa diakses di Her Magnifico World

Kali aja mau comment atau review langsung bisa follow sekaligus mention ke @Namirasicha #inibukanpromote :pV

Pesan saya buat semua yang baca review ini, kalian harus baca kisah gelembung Jenna-Luca dalam “A Thousand Years” ASAP!

Dan buat Sicha, kamu HARUS buat cerita ini jadi buku! HARUS! *capslock ngadat*

Saya orang pertama yang HARUS punya buku kamu *maksa*

I’ll wait for ‘Fate’ and 2 more. Nice work, keep writing ;)